Harga Minyak US$ 60 Per Barel, Resesi Ekonomi Mengancam

Harga Minyak US$ 60 Per Barel, Resesi Ekonomi Mengancam

- detikFinance
Selasa, 28 Jun 2005 12:44 WIB
Jakarta - Sudah hampir sepekan ini harga minyak dunia bertengger di kisaran US$ 60 per barel. Bertahannya harga minyak pada level yang sangat tinggi ini, salah satunya dipicu oleh terpilihnya presiden Iran baru, Mahmoud Ahmadinejad. Resesi mengancam perekonomian dunia. Pada perdagangan Selasa (28/6/2005) pagi ini di Singapura, harga minyak dunia lebih rendah 17 sen daripada harga minyak di New York Mercantile Exchange yang diperdagangkan sebesar US$ 60,37 per barel. Di New York, harga minyak diperdagangkan sebesar US$ 61 per barel dan sempat bertahan selama beberapa hari ini. Tingginya harga minyak ini, masih lebih rendah ketimbang harga minyak pada tahun 1980 saat awal resesi dunia yang mencapai US$ 90 per barel.Sejumlah analis menilai, masih tingginya harga minyak dunia dipicu oleh faktor psikologis terpilihnya Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran. Ahmadinejad menyatakan, pemerintah akan transparan dalam proses kontrak penjualan minyak yang selama ini dinilai tertutup. Bahkan dia akan memberangus mafia perminyakan di Iran agar keuntunganya dapat dipergunakan untuk mengembangkan program energi nuklir yang berguna bagi rakyat Iran.Permintaan minyak dunia pada tahun 2005, telah mencapai rekornya karena telah mencapai 84 juta barel per hari. Analis percaya, ketersediaan cadangan minyak dunia tidak akan menutupi kebutuhan minyak secara keseluruhan.Menteri Keuangan Jepang Sadakazu Tanigaki seperti yang dikutip kantor berita AP menyatakan, produsen minyak dan negara pengimpor minyak harus melakukan pembicaraan serta mengambil kesepakatan untuk menekan harga minyak. Ekonom dari Morgan Stanley, Andy Xie memperingatkan, Asia akan jatuh pada lembah resesi jika harga minyak tidak kembali pada harga normal. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads