Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Dibayangi Ketidakpastian Global
Rabu, 29 Jun 2005 11:38 WIB
Jakarta -
Meski mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama tahun 2004, namun ASEAN akan dibayangi tingginya ketidakpastian, salah satunya dari lonjakan harga minyak dunia. Selain tingginya harga minyak, ketidakpastian di ASEAN juga dipicu oleh ketidakseimbangan dunia dan ketidakstabilan nilai tukar. Demikian catatan Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah yang mewakili ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina) dalam pertemuan dua bulanan Bank for International Settlement (BIS) di Basel, Swiss, seperti dikutip dari situs BI, Rabu (29/6/2005)."Walaupun mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi pada tahun 2004, diperkirakan pada tahun 2005 perekonomian negara-negara ASEAN akan menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi, yang dapat mengganggu proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung," papar Burhanuddin.Dia menilai, pertumbuhan ekonomi ASEAN yang cukup tinggi selama tahun 2004 antara lain disebabkan oleh meningkatnya permintaan eksternal dan naiknya harga komoditas non-minyak.Kepala Humas BI Erwin Riyanto menjelaskan, kenaikan harga minyak saat ini akan memberikan dampak yang lebih besar pada ekonomi ASEAN. Kenaikan harga minyak tersebut diperkirakan akan menekan nilai tukar di kawasan ASEAN dan meningkatkan tekanan inflasi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Cina yang menjadi mitra dagang utama negara ASEAN diperkirakan akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi ekonomi di kawasan ASEAN.The Global Development Finance mencatat, selama tahun 2004, sekitar 74 persen atau US$ 143,7 miliar dari total arus modal yang mengalir ke negara emerging market masuk ke Asia, termasuk ASEAN. Tingginya arus modal masuk ini terutama disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keterbukaan ekonomi, penerapan kebijakan ekonomi yang market friendly dan prospek ekonomi yang dinilai baik. Meski mendapat keuntungan dari masuknya modal yang sebagian besar di antaranya dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI), arus modal juga telah meningkatkan kerentanan terhadap mata uang negara ASEAN.Mata uang ASEAN saat ini sangat rentan karena faktor internal dan eksternal. Secara internal, mengecilnya pasar valas menjadi faktor utama. Secara eksternal, rentannya mata uang ASEAN disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketidakseimbangan dunia, kemungkinan naiknya suku bunga The Fed, dan meningkatnya spekulasi dalam rangka mengantisipasi revaluasi yuan. Untuk mengantisipasi ketiga tantangan tersebut, perekonomian ASEAN cenderung untuk membatasi spekulasi yang berlebihan akibat meningkatnya arus modal yang kurang terkendali. Bank Sentral negara ASEAN menerapkan berbagai kebijakan yang bersifat spesifik dan berjangka waktu relatif pendek, yang ditujukan untuk memelihara kestabilan nilai tukar. Hal itu dimaksudkan agar dapat memberikan peluang yang lebih besar dalam mencapai tujuan kebijakan ekonomi masing-masing negara, yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Namun demikian, hal ini bukan berarti ASEAN akan meninggalkan pendekatan kebijakan yang bersifat terbuka dan berorientasi pasar. Tetapi ASEAN akan tetap mempertahankan kebijakan ekonomi yang terbuka, dengan berupaya mencapai kebijakan arus modal yang stabil dan lancar.Upaya lain untuk mengurangi kerentanan eksternal di kawasan regional adalah dengan membuat kesepakatan antara Bank Sentral negara-negara ASEAN, termasuk dalam kerangka Pertemuan Eksekutif Gubernur Bank Sentral Asia Pasifik (EMEAP).Implementasi Asian Bond Fund 2 (ABF 2) beberapa waktu yang lalu juga merupakan bentuk lain upaya memperkuat pasar keuangan di kawasan. Selain itu, secara khusus Indonesia sedang menjajaki kemungkinan peningkatan komitmen dalam Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Jepang, Cina dan Korea Selatan, dari sebelumnya sebesar US$ 5 miliar menjadi US$ 10 miliyar pada tahun ini.
(qom/)










































