Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 25 Mar 2018 12:45 WIB

Bappenas Sebut Jakarta Krisis Air, Ini Kata PUPR

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Pool/Dok. Kementerian PUPR Foto: Pool/Dok. Kementerian PUPR
Jakarta - Jakarta sebagai ibukota Indonesia masih banyak memiliki masalah, salah satunya terkait pemenuhan air. Saat ini, Jakarta dalam status krisis air bersih.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Imam Santoso membenarkan kondisi air di Jakarta saat ditanya masalah tersebut."Iya (krisis air)," kata dia di sela-sela Hari Air Dunia XXVI di Jakarta, Minggu (25/3/2018).

Dia mengatakan, Jakarta memiliki penduduk sekitar 12 juta. Dari jumlah tersebut, baru 60% yang mendapat akses air PDAM yang merupakan air bersih. Hal ini memperkuat kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Di mana, meski orang mengira air tersedia di mana-mana namun Jakarta kekurangan pasokan air.


"Jakarta itu penduduknya sekitar 12 juta, kita butuh air sangat banyak. Saat ini baru 60% airnya di-supply dari air PDAM, air bersih. Tapi sisanya kan diambil dari air tanah," kata dia.

Lanjutnya, hal itu disebabkan oleh minimnya pasokan sumber air baku. Di sisi lain, jaringan air juga masih minim. "Kita tidak bisa menyetop masyarakat, 'enggak boleh ambil air', mereka butuh air kok," ujar dia.

Dia menambahkan, pemanfaatan air tanah sendiri memicu penurunan muka tanah. Sebab itu, pemerintah tengah mengupayakan tambahan sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air di Jakarta. Di antaranya, dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat dan Karian di Banten.



"Kita berharap kebutuhan air baku di Jakarta bisa terpenuhi," tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan air adalah kebutuhan yang seringkali ketersediaannya dilupakan oleh masyarakat. Padahal kebutuhan terhadap air sangat tinggi.

"Orang masih saja mengira air tersedia di mana-mana dan supply nya banyak. Padahal tidak di Jakarta misalnya, itu gawat sekali sekarang kebutuhan 28 kubik tapi suplainya hanya 18, jadi defisit. Pulau Jawa selalu jadi perhatian karena memang masyarakat banyak di Jawa ini, " kata Bambang (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed