Menurut Anwar, darah wirausaha yang banyak dimiliki masyarakat Minangkabau seharusnya bisa menjadikan BUMDes, atau Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) di Sumbar, bisa lebih gesit dibanding daerah lain.
"Tak ada alasan kalau BUMNag tidak bisa berkembang di ranah Minang. Badan usaha nagari di Sumbar harus menjadi nomor satu, karena saya yakin bakat enterpreneur sudah ada mengalir di darah orang Minang, tapi BUMNag harus prioritas memperhatikan keuntungan sosial jadi tidak hanya semata laba, karena itulah yang membedakan bumdes dengan usaha lainnya," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diungkapkannya, bagi badan-badan usaha nagari yang masih ragu atau gamang menentukan unit usahanya dan memetakan potensi, bisa berkonsultasi dengan lembaga pengabdian masyarakat di perguruan tinggi yang tergabung di Pertides (perguruan tinggi pedesaan).
Di Sumatera Barat, MOU Kemendes PDTT dengan perguruan tinggi telah dilakukan langsung oleh dirinya bersama Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo.
"Kordinator pendamping wilayah dan TA Ekonomi, bahkan pendamping desa juga diminta pro aktif untuk menindak lanjuti, dan sering seringlah berdiskusi dengan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat yang ada di perguruan tinggi," kata Anwar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/3/2018).
Dalam kesempatan itu, Anwar juga memaparkan Akademi Desa 4.0 yg akan di-launching di Balai Pelatihan Kemendes di Jogjakarta, tepat pada perayaan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 yang akan datang.
"Komitmen dan disiplin perlu untuk keberhasilan program Prukades ini. Tetapi pendampingan juga menjadi mutlak agar kami dapat memastikan MOU antara Bupati dengan perusahaan, dan melibatkan masyarakat bisa terlaksana dengan baik," ungkap Anwar. (nwy/zlf)










































