Kenaikan Harga Minyak Ancam Ekonomi Asia
Kamis, 30 Jun 2005 11:45 WIB
Jakarta - Perekonomian di Asia diprediksi berada pada posisi mengkhawatirkan menyusul makin melambungnya harga minyak. Sejumlah analis memperkirakan, resesi ekonomi bakal terjadi jika harga minyak tetap tinggi.Bank Sentral Korea Selatan menyatakan, tingginya harga minyak menyumbang sekitar 0,7 persen penurunan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan harga. Filipina juga telah mengingatkan, tingginya harga minyak menyebabkan ekonomi biaya tinggi. "Harga minyak yang tinggi, membawa negara ini kepada gerbang biaya mahal ekonomi," kata Presiden Filipina Gloria Arroyo Macapagal."Kenaikan harga minyak telah menghambat pertumbuhan ekonomi di Asia," kata Andy Xie, ekonom di Morgan Stanley di Hong Kong. "Jika harga minyak tidak turun, Asia bakal jatuh pada resesi ekonomi yang sifatnya jangka pendek," katanya seperti yang dikutip kantor berita AP Kamis (30/6/2005).Harga minyak di pasar Asia mencapai puncaknya, ketika memecahkan rekor harga tertinggi sebesar US$ 60,54 per barel. Harga minyak sebesar US$ 60 per barel sempat bertahan lama hingga beberapa hari.Tingginya harga minyak juga menyulitkan sejumlah industri di Asia. Biaya tinggi akan mempengaruhi laju perkembangan beragam industri misalnya industri penerbangan, industri baja dan logam, komputer dan perikanan.Di Malaysia, sejumlah perusahaan elektronik khawatir tingginya harga minyak akan menurunkan produksinya. Pengaruhnya pun pada penurunan PDB (produk domestik bruto) yakni dari sebesar 7,1 persen menjadi 5 persen. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra menyatakan growth domestic product (GDP) akan dipengaruhi oleh harga minyak.Sementara Singapura memprediksi pertumbuhan ekonominya hanya sekitar 3-5 persen atau turun drastis dari prediksi awal sebesar 8,5 persen pada tahun 2004. Bagaimana di Indonesia? Tingginya harga minyak akan menyebabkan naiknya subsidi BBM walaupun di sisi lain kenaikan harga minyak juga akan menyebabkan pendapatan APBN bertambah. Indonesia juga sudah melakukan upaya penghematan pemakaian BBM secara nasional, mengingat berkurangnya stok BBM dari posisi normal yakni, 22 hari. Indonesia walapun menjadi negara pengekspor minyak, akan tetapi 30 persen dari kebutuhan BBM-nya harus dipenuhi dari luar.
(mar/)











































