Follow detikFinance
Rabu, 04 Apr 2018 14:52 WIB

Curhatan 'Anker' Desak- desakan Horor di Stasiun Duri

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Suasana  di Stasiun Duri (Foto: Selfie Miftahul Jannah) Suasana di Stasiun Duri (Foto: Selfie Miftahul Jannah)
Jakarta - Belakangan Stasiun Duri mendadak terkenal karena video eskalator horor yang menggambarkan kepadatan penumpang yang tidak wajar, baik yang masuk maupun keluar dari Stasiun Duri. Petugas ditambah dan disiagakan untuk pengamanan di lokasi.

Dari pengalaman salah satu anak kereta atau 'anker' yang kerap menggunakan jurusan Duri-Tangerang pada saat akhir pekan Yohana Artha Ully, kondisi Stasiun Duri Selalu padat. Bahkan Yohanna mengaku selalu tidak kebagian kursi dari Stasiun Duri ke Tangerang.

"Kalau saya kan biasanya ke Duri itu weekend dan itu padat banget, antara Sabtu-Minggu pulang ke Tangerang itu pasti selalu lewat Duri.Kalau padat itu saya selalu berdiri gerak aja susah itu karena mungkin weekend. Buat gerak ya bisa sebenarnya tapi dempetan banget," kata dia kepada detikFinance, Rabu (4/4/2018).


Yohana yang selalu mengambil waktu pulang dan pergi ke Tangerang memilih waktu pagi atau sore hari. Suasana stasiun sebelum naik kereta pun padat, Yohana harus berdesakan untuk masuk ke gerbong-gerbong kereta bersama penumpang lainnya.

"Jadi kan kadang ada orang yang nunggu kereta selanjutnya karena nggak mau dempet-dempetan tapi saya mending maksain diri masuk karena malas nunggu lama lagi kalaupun ada sama saja padat," papar dia.


Yohana yang bisa datang ke stasiun Duri menuju stasiun Tanah Tinggi dengan menggunakan KRL harus berdiri dan berhimpitan dengan penumpang lainnya selama 45 menit.

"Ini weekend lho maksudnya, apalagi hari kerja. Padat banget, sebenarnya tahun lalu pernah coba naik dari Tanah Tinggi ke Duri di gerbong perempuan itu penuh banget. Saking penuhnya, jendela gerbong kereta harus dibuka supaya ada udara masuk (pengap)," kata dia.


Sebagai informasi adanya armada baru KA Bandara yang menggunakan jalur KRL berdampak pada penyesuaian jadwal kereta dari waktu hingga pergeseran jalur. Secara rinci dampak dari penambahan frekuensi KA Bandara dari 50 perjalanan menjadi 70 perjalanan diduga berdampak pada pengurangan frekuensi perjalanan rute Duri-Tangerang dari 90 perjalanan per hari menjadi 80 perjalanan per hari.

Dampak lain yang ditimbulkan dari keputusan tersebut berimbas pada bertambah lamanya waktu tunggu penumpang di sejumlah stasiun yang dilalui. Salah satunya seperti terjadi di Stasiun Duri. KRL yang biasa datang setiap 20 menit sekali saat ini jadi 30 menit sekali karena adanya penyesuaian waktu perjalanan KRL dengan jadwal perjalanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed