Pemerintah Akui Pertumbuhan Ekonomi 6,6 Persen Cukup Berat
Senin, 04 Jul 2005 11:50 WIB
Jakarta -
Sasaran peningkatan pertumbuhan ekonomi yang rata-rata sebesar 6,6 persen selama peroide 2004-2009 memang terasa berat. Namun secara bertahap hal itu harus dicapai agar Indonesia lebih sejahtera di tahun 2009. Begitu juga tingkat kemiskinan dan pengangguran pada empat tahun ke depan akan dikurangi. Hal tersebut dikatakan Menko Perekonomian Aburizal Bakrie saat melantik pejabat eselon I Kementerian Koordinator Perekonomian di Ruang Graha Sawala, Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (4/7/2005).Dikatakan Ical, begitu panggilan Aburizal, penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran dilakukan dengan 3 strategi yang diistilahkan sebagai triple track strategy. Strategi itu adalah mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dan ekspor, penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan dan kesenjangan melalui revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan serta pengembangan usaha kecil menengah.Prioritas utama yang harus difokuskan selama 5 tahun mendatang, kata Ical, adalah revitalisasi sektor pertanian pedesaan dan UKM. "Karena di sektor inilah sebagian tenaga kerja Indonesia mencari sumber kehidupan," kata Ical. Prioritas kedua adalah penguatan daya saing nasional. "Prioritas yang ketiga adalah penciptaan iklim investasi yang sehat," tandas Ical. Terkait masalah pengangguran, kata Ical, pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi sehingga penyerapan terhadap tenaga kerja menjadi besar. Dengan pertambahan rata-rata sebesar sekitar 6,5 persen atau 7 persen per tahun baru dapat diseimbangkan antara pertumbuhan tenaga kerja dengan angka pertumbuhan ekonomi.Jika angka pertumbuhan mencapai 7,9 persen maka hal itu akan mengurangi jumlah pengangguran. "Pertumbuhan angkatan kerja masih besar dari jumlah lapangan kerja. Mudah-mudahan kita dapat mengejarnya," kata Ical.
(mar/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































