Kurtubi: Kondisi Perminyakan RI Sangat Memprihatinkan

Kurtubi: Kondisi Perminyakan RI Sangat Memprihatinkan

- detikFinance
Senin, 04 Jul 2005 12:51 WIB
Jakarta - Kondisi perminyakan di Indonesia memang sangat memprihatinkan. Produksi terus merosot sementara konsumsi terus melonjak dan diperkirakan melampaui kuota nasional sebesar 59,6 juta kilo liter.Demikian disampaikan pengamat perminyakan Kurtubi dalam talkshow bertajuk "Mencermati pergerakan rupiah di tengah kenaikan harga minyak" di Financial Club di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (4/7/2005).Kurtubi menjelaskan, secara nasional, produksi BBM terus merosot. Pada tahun 1999 produksi mencapai 1,5 juta barel per hari (bph). Namun pada semester I-2005, produksi hanya di bawah 1 juta bph. Indonesia dan Venezuela kini menjadi dua negara yang tidak pernah berhasil memenuhi kuota produksi dari OPEC. Kuota produksi dari OPEC untuk Indonesia sebesar 1,4 juta bph. Namun menurut Kurtubi, permasalahan dua negara ini sangat berbeda. Untuk Indonesia, kuota tidak berhasil dipenuhi karena tidak optimalnya kilang, sementara Venezuela kapasitas kilangnya cukup, namun ada sejumlah permasalahan.Dengan demikian, untuk mencukupi kebutuhan BBM nasional yang terus melonjak, Pertamina harus mengimpor dalam jumlah yang cukup besar di tengah harga yang terus membumbung.Kurtubi menilai, salah satu sumber masalah BBM di Indonesia adalah kapasitas kilang yang tidak bertambah. Indonesia terakhir kali menambah kapasitas minyak adalah saat Kilang Balongan beroperasi pada tahun 1993. "Jadi sudah 12 tahun tidak ada tambahan kapasitas. Kalaupun ada, jumlahnya tidak signifikan," kata Kurtubi.Kurtubi memperkirakan, untuk memulihkan kondisi perminyakan Indonesia secara jangka pendek dalam 2 hingga 3 tahun mendatang sngat sulit. "Harapan satu-satunya adalah dari kesepakatan dengan ExxonMobil," kata Kurtubi.Dengan diperolehnya kesepakatan dengan Exxon, diharapkan produksi Blok Cepu bisa segera beroperasi pada tahun 2008. Blok ini diperkirakan mengandung cadangan minyak sampai sebesar 1,4 miliar barel, dengan perkiraan produksi sekitar 100 ribu sampai 300 ribu barel per hari. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads