Dalam 7 Tahun Investasi Migas Menurun
Senin, 04 Jul 2005 22:56 WIB
Pekanbaru -
Dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, secara nasional iklim investasi bidangminyak dan gas bumi (migas) mengalami penurunan. Hal itu karena terbatasnya cadangan minyak nasional.Tren penurunan iklim investasi di bidang Migas juga dirasakan di empat provinsi, yakni Riau, Kepri, Sumut dan NAD. Penurunan investasi ini tidak bisa dipungkiri karena alasan teknis dalam eksplorasi ladang minyak. Dimana, ladang minyak yang ada saat ini tidak lagi memiliki cadangan yang begitu besar."Peluang untuk mendapat cadangan minyak yang begitu besar sangat tipis sekali. Hal itu membuat investor juga tidak ingin memanggung resiko yang tinggi dalam eksplorasi ladang minyak dikarenakan cadangan minyak secara alami mengalami penurunan," kata Kepala Perwakilan Badan Pelaksana Hulu Migas (BP-MIGAS) Sumatera bagian Utara (Sumbagut), Bambang Andy Warto kepada detikcom, di ruang kerjanya, Gedung Surya Dumai, Jl. Sudirman, Pekanbaru, Senin, (4/7/2005).Tingginya resiko penanaman investasi yang dimaksud, kata Bambang, bila sebuah perusahaan satu kali gagal dalam ekplorasi sumur minyak, maka dana yang dikeluarkan setara dengan biaya tiga sumur minyak yang telah berproduksi. Karena, pihak pemerintah baru akan membayar dana eksplorasi bila sumur minyak itu sudah menghasilkan minyak mentah."Jadi apa bila investor gagal dalam ekplorasi minyak, pihak pemerintah tidak akan mengganti dana yang telah dikeluarkan. Pihak pemerintah baru akan mengganti dana eksplorasi tersebut (cost recovery) bila sumur minyak itu sudah menghasilkan. Inilah resiko yang tinggi jika sebuah investor gagal dalam eksplorasi minyak," katanya.Selain alasan teknis, lanjut Bambang, kondisi keamanan di Indonesia atau pun sejumlah sistem administrasi juga mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modalnya bidang Migas."Jadi selain soal teknis, masalah jaminan keamanan di negara kita juga turutmempengaruhinya," jelas Bambang yang baru menjabat dalam pekan ini di Pekanbaru.Bambang memperkirakan cadangan minyak hanya akan mampu bertahan 10 hingga 15 tahun mendatang dengan 10 perusahaan minyak yang ada di Riau dan Kepulauan Riau. Kondisi itu sudah sudah termasuk dengan sistem primer dan sekunder."Bila di Riau tidak ada penambahan ladang minyak baru, paling lama cadangan minyak kita hanya mampu bertahan 15 tahun mendatang. Lain hal bila ditemukan kembali ladang minyak baru, kemungkinan cadangan waktunya akan lebih panjang lagi," kata Bambang.
(ddn/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































