Kurang Perhatian, Perkembangan Industri Sutera Lambat
Selasa, 05 Jul 2005 13:22 WIB
Jakarta - Industri kecil dan menengah (IKM) sutera kurang perhatian pemerintah, sehingga perkembangannya menjadi lambat. Sementara IKM sandang tumbuh 2-3 persen per tahun dan pada tahun 2005 ini terdapat 220 ribu unit."Ini kesalahan kita bahwa penanganan industri IKM tidak kontinyu," kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Sakri Widhianto dalam sambutannya pada pembukaan Pameran IKM Sandang di Departemen Perindustrian Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (5/7/2005).Industri IKM sandang tahun ini ditargetkan dapat tumbuh 5-7 persen. Karena sandang merupakan industri tekstil dan produk tekstil yang masuk dalam prioritas industri cluster. Dalam pengembangannya, industri ini membutuhkan dua pendekatan yakni pendekatan IKM sandang yang bahan bakunya dari industri besar misalnya kain tenun, katun, poliester dan rayon. Kedua, pengembangan serat alam seperti sutra alam, rami dan linen."Untuk sutera kita akan bekerja sama dengan IPB. Kita mengembangkan sutera di Bogor, Cianjur dan Sulsel," kata Sakri.Cina dan Thailand, kata Sakri, saat ini menjadi pesaing kuat Indonesia dalam ekspor sutera. Sementara sutera Indonesia mempunyai kendala dalam memproduksi popon atau kepompong bahan baku sutera. "Ini merupakan dampak dari produksi pertanian," kata Sakri. Ekspor sutera Indonesia terutama ditujukan ke sejumlah negara yang sangat menghargai kerajinan. Negara-negara itu misalnya Jepang, Amerika, Eropa dan negara-negara Skandinavia.
(mar/)











































