Follow detikFinance
Selasa, 24 Apr 2018 15:59 WIB

Ini Sosok Inspiratif bagi Bahlil, Sopir Angkot yang Jadi Pengusaha

Zulfi Suhendra - detikFinance
Foto: Zulfi Suhendra/detikFinance Foto: Zulfi Suhendra/detikFinance
Jakarta - Di balik kesuksesan seseorang, biasanya ada peran yang selalu mendukung dan paling berjasa, begitu pun dengan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Bahlil Lahadalia.

Siapa yang paling berjasa dalam hidup Bahlil?

"Bapak dan mama saya!" kata Bahlil mantap saat berbincang santai dengan detikFinance di kantornya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan pekan lalu.

Segudang pelajaran hidup telah Bahlil dapat dari kedua orang tuanya yang merupakan keluarga miskin. Pekerjaan ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga dan sang ayah yang merupakan kuli bangunan, membuat Bahlil bisa banyak menghargai hidup dan usaha.

"Kerja keras saya itu, saya terinspirasi dari ayah saya. Ayah saya itu seorang buruh bangunan, dia mampu menyekolahkan anaknya 8 orang, dan semua sarjana. Gaji Rp 7.500 per hari, tapi dia bisa memberikan makan untuk semua anaknya. Dia kerja, sakit pun dia kerja," kenang Bahlil.


Rasa pantang menyerah serta tekad yang besar itulah yang Bahlil pelajari dari kedua orang tuanya.

"Dia (ayah saya) kerja tidak pernah mengeluh, begitupun mama saya. Jadi rasa tanggung jawab untuk kerja keras menghidupi anak-anaknya, itu tinggi sekali. Dan cara itu yang kemudian saya adopsi dalam bekerja," katanya.



Bahlil ingin agar semangatnya dalam berusaha bisa sama seperti sang ayah. Hal itu agar dirinya tak merasa gagal telah mendapatkan banyak pelajaran dari orang tua.

"Bagi saya yang berjasa paling besar, ya mama bapak saya. Yang selalu tidak henti-hentinya mengajari kami pada hal-hal yang ringan tapi prinsip," kata dia.


"Contoh, sedikit punya kita, jauh lebih baik itu punya kita daripada mengambil hak orang. Satu lagi prinsip, bayarlah upah orang, sebelum keringatnya kering. Itu bapak saya, karena bapak saya pernah merasakan gajinya terlambat tiga hari, dan kami hampir tidak makan, kan begitu. Jadi kenapa bapak saya ngomong, karena dia pernah merasakan itu," kata Bahlil.

Namun sayang, sang ayah meninggal dunia pada 2003, yang mana saat itu Bahlil belum sukses seperti sekarang. Sang mama masih ada hingga sekarang.

"Bapak saya sudah meninggal, jadi waktu bapak saya meninggal itu 2003. Bapak belum sempat melihat saya bisa melakukan hal sifatnya mencukupi standar. Saya masih karyawan waktu itu. Mamah saya Alhamdulillah masih ada," kenangnya.

(fdl/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed