Subsidi BBM Terancam Membengkak

Defisit APBN Ditekan Kurang 1%

Subsidi BBM Terancam Membengkak

- detikFinance
Senin, 11 Jul 2005 14:43 WIB
Jakarta - Subsidi BBM terancam membengkak akibat tingginya harga minyak dunia. Namun pemerintah akan berusaha mati-matian mempertahankan defisit anggaran di bawah 1 persen."Kalau harga minyak di atas US$ 60 per barel, kita tidak ada tempat untuk meratap, tidak ada tempat untuk menangis, tapi berusaha keras untuk menutup subsidi dan kekurangan defisit," kata Menteri Keuangan Jusuf Anwar. Jusuf menyampaikan hal tersebut usai rapat monitoring pelaksanaan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tahun 2005 di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (11/7/2005).Pemerintah, lanjut Jusuf, akan berusaha keras untuk menutup subsidi dan kekurangan defisit, sehingga diharapkan tidak ada gap kekurangan pembiayaan. "Saya harus pertahankan defisit hanya sekitar satu persen atau ke bawah," tegasnya. Jusuf menyebutkan, hingga saat ini, realisasi subsidi BBM telah jauh meleset dari perkiraan awal, yakni mencapai sekitar Rp 43 triliun. "Jadi tentunya kalau tidak ada langkah-langkah kebijakan, subsidinya akan terus membengkak sebagai konsekuensi dari harga minyak dunia yang tidak terkontrol," kata Jusuf.Ia menyebutkan, beberapa hari terakhir, Depkeu juga telah mengucurkan subsidi BBM ke Pertamina sekitar Rp 3 triliun untuk menambah cash flow. "Jadi Pertamina tidak ada masalah keuangan, tinggal ada masalah kendali distribusi," ujar Jusuf. Dalam perhitungannya, jika harga minyak dunia tetap di atas US$ 60 per barel dan tidak dilakukan upaya-upaya khusus, maka diperkirakan subsidi BBM bisa membengkak hingga Rp 136 triliun. "Jadi harus dipikirkan pola subsidinya, apakah ke produk atau ke orang. Anda bayangkan jika Rp 136 triliun itu digunakan untuk subsidi sekolah, puskesmas, infrastruktur dasar dan sebagainya. Itu subsidi yang benar yang diarahkan untuk pengentasan kemiskinan," papar Jusuf.Jika penghematan konsumsi BBM yang saat ini kuotanya 59,6 juta kiloliter dapat dilakukan, lanjut Jusuf, maka akan membantu keuangan negara. "Tapi kalau sebaliknya, maka akan merongrong keuangan negara," tegasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads