Nasib PT AAF Diputus 16 Juli
Selasa, 12 Jul 2005 16:13 WIB
Jakarta - Negara-negara ASEAN yang menjadi pemegang saham PT ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) akan memutuskan nasib perusahaan yang sudah sekarat sejak dua tahun itu dalam RUPS 16 Juli mendatang. "Kalau diputusin untuk jalan, ya jalan. Kalau tidak, tergantung pemerintah dan negara-negara ASEAN sebagai pemegang saham," kata Dirut PT AAF Rauf Purnama usai bertemu Wapres Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (12/7/2005).Rauf menjelaskan, dalam RUPS tersebut juga akan diputuskan nasib 800 karyawan PT AAF yang sudah sejak dua tahun terakhir berhenti beroperasi akibat tidak adanya pasokan gas. Rauf menambahkan, berdasarkan usulan Serikat Pekerja, biaya untuk PHK 800 karyawan mencapai Rp 300 miliar. Ditambahkan Rauf, PT AAF saat ini memiliki tiga pabrik yang secara total membutuhkan pasokan gas sebesar 180 mmcfd. PT AAF merupakan perusahaan patungan negara-negara ASEAN. Saham PT AAF dimiliki oleh lima negara penandatangan Deklarasi Bangkok, yaitu Indonesia (60 persen), Thailand (13 persen), Filipina (13 persen), Malaysia (13 persen), dan Singapura (1 persen).Indonesia diwakili oleh PT Pupuk Sriwidjaja, Malaysia diwakili Petronas, Filipina diwakili National Fertilizer Corporation of Philippine, Singapura diwakili Temasek Holding Pte Ltd, dan Thailand diwakili The Mistry of Finance of The Kingdom of Thailand. Produk dari pabrik pupuk PT AAF itu sebagian besar dikirim ke negara-negara anggota ASEAN. Sedangkan sisanya ke negara pemakai pupuk urea, seperti Vietnam, Cina, India, Sri Lanka, dan Kamboja.
(qom/)











































