Harga Minyak Dunia Diprediksi Tembus US$ 75 per Barel
Selasa, 12 Jul 2005 17:44 WIB
Jakarta - Harga minyak dunia diperkirakan akan tembus angka US$ 75 per barel pada tahun ini. Jika harga minyak sudah melebihi US$ 70 per barel, maka pemerintah sudah seharusnya menaikkan harga BBM."Opsi penyesuaian harga sudah harus dipikirkan, jika harga minyak sampai pada level US$ 70 per barel. Soalnya penerimaan sektor migas tidak akan mampu menutup subsidi BBM yang mungkin akan mencapai Rp 150 triliun dengan harga minyak sebesar itu," kata pengamat perminyakan Kurtubi.Kurtubi menyampaikan hal tersebut pada saat diskusi bertajuk "Transparansi ekonomi ekstraktif di Indonesia" yang diselenggarakan Transparency International Indonesia (TII) di Hotel Crown Plaza, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (12/7/2005).Kurtubi mengakui kenaikan harga BBM adalah pilihan yang sangat sulit. "Untuk itu harus dijelaskan kepada rakyat secara transparan alasan kenapa harga harus dinaikkan," terangnya.Menyinggung soal upaya penghematan BBM yang dikatakan dapat menghemat sekitar 5-10 persen, Kurtubi mengaku tidak punya hitungan tersendiri, apakah upaya penghematan bisa mencapai angka tersebut.Akan tetapi kalau penghematan BBM bisa tercapai, maka akan sangat menolong sekali dari segi pemakaian BBM. "Kita dapat menghemat sekitar 5,9 juta kiloliter per tahun dari kebutuhan BBM sekitar 59,6 juta kiloliter," ujarnya.Namun demikian, lanjutnya, upaya penghematan itu harus dibarengi dengan upaya lainnya, seperti meningkatkan produksi minyak. Harga minyak yang tinggi tidak menjadi soal kalau produksi minyak tinggi.Selain langkah meningkatkan produksi minyak, pemerintah juga perlu mengupayakan diversifikasi produk energi dan juga mengembangkan energi alternatif. Yang paling realistis saat ini adalah batu bara dan gas yang dapat dipakai sebagai energi alternatif.Bangun Kilang BaruKurtubi juga meminta kepada pemerintah untuk membangun sedikitnya tiga kilang baru untuk memenuhi kebutuhan BBM di dalam negeri. Pembangunan kilang ini dilakukan agar pemerintah tidak perlu lagi mengimpor BBM yang harganya cenderung naik dari hari ke hari."Saat ini kemampuan kilang kita hanya 1 juta barel per hari dan kebutuhan BBM saat ini adalah 1,4 juta barel per hari. Paling tidak harus ada tiga kilang baru yang sekelas Kilang Balongan untuk memenuhi kebutuhan BBM saat ini," tandas Kurtubi.Mengenai sumber pembiayaan kilang baru, Kurtubi menyarankan dananya dapat diambil dari para investor yang akan membangun kilang baru, misalkan dengan memberikan insentif. "Dari pada Pertamina impor BBM dengan harga pasar, lebih bagus 'impor' BBM dari dalam negeri dengan harga pasar juga. Dengan demikian akan menghemat ongkos angkut dan keamanan yang lebih terjamin," katanya.Menurutnya, untuk membangun kilang yang mampu memproduksi 125 ribu barel per hari dibutuhkan dana sekitar US$ 1,5 miliar. "Saya pikir dengan memberikan insentif, pembangunan kilang ini akan terpenuhi," jelasnya.
(san/)











































