"Kita harapkan harganya stabil terjangkau, jika naik pun diharapkan tidak terlalu tinggi," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (11/5/2018).
I Ketut memaparkan berdasarkan prognosa ketersediaan, produksi daging ayam tahun 2018 adalah sebesar 3.565.495 ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi sebesar 3.047.676 ton. Jumlah tersebut menunjukkan adanya neraca surplus sebanyak 517.819 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, khusus untuk bulan puasa dan lebaran tahun ini, ketersediaan daging ayam adalah sebanyak 626.085 ton dengan kebutuhan konsumsi sebanyak 535.159 ton. Dari jumlah tersebut, terlihat adanya neraca surplus sebanyak 90.926 ton.
Sedangkan untuk ketersediaan telur ayam konsumsi, terdapat produksi sebanyak 2.968.954 ton dengan jumlah kebutuhan konsumsi 2.766.760 ton. Maka diperoleh kelebihan stok nasional sebanyak 202.195 ton.
Sementara untuk ketersediaan telur selama bulan puasa dan lebaran, terdapat produksi sebesar 521.335 ton dan jumlah kebutuhan sebanyak 485.831 ton, sehingga ada kelebihan stok sebanyak 35.504 ton.
Musbar, Ketua Peternak Layer Nasional (PLN) mengatakan, pelaku usaha pada prinsipnya mendukung untuk ikut serta menjaga harga telur dan daging ayam tetap stabil pada HBKN (Kesiapsiagaan Bencana Nasional) ini.
"Ketersediaan telur di pelaku usaha cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa dan lebaran," ungkapnya.
Baca juga: Tak Ada Alasan Harga Pangan Strategis Naik |
Selain itu Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono menjelaskan, pemerintah mengimbau agar pelaku usaha dan asosiasi perunggasan ikut serta dalam menjaga stabilitas harga di bulan Ramadan.
"Pemerintah juga telah mengimbau agar para pelaku usaha dan asosiasi perunggasan dapat berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga-harga dan ketersediaan, sehingga yang kita harapkan masyarakat dapat beribadah di bulan ramadhan dengan tenang dan khusyuk," ujarnya. (ega/hns)










































