Penguatan Dolar AS Tak Dorong Kinerja Ekspor RI

Penguatan Dolar AS Tak Dorong Kinerja Ekspor RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 15 Mei 2018 16:35 WIB
Penguatan Dolar AS Tak Dorong Kinerja Ekspor RI
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa waktu lalu disebut bisa mendorong kinerja ekspor nasional. Namun Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini merilis data neraca perdagangan RI defisit, ini artinya nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan harusnya dengan pelemahan nilai rupiah ini bisa membuat ekspor lebih kompetitif.

"Seharusnya bisa menjadi momen yang bagus. Namun saat ini struktur ekspor Indonesia paling besar masih tergantung pada komoditas," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/5/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menambahkan, akibat struktur ekspor tersebut butuh perbaikan agar Indonesia tidak tergantung dengan komoditas saja. Menurut dia jika barang ekspor Indonesia hanya berbasis komoditas saja ini akan pengaruh di pasar dan harga, karena itu perlu diperbaiki. Lebih bagus kalau ekspor yang menghasilkan nilai tambah dan menghasilkan daya saing.

"Secara teoritis harusnya akan meningkatkan ekspor, atau kita lihat lah beberapa bulan ke depan," ujarnya.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan tingginya impor bahan baku dan barang modal termasuk mesin industri. Menurut dia, jika dolar AS menguat biaya produksi industri tentu akan bengkak.

"Belum lagi kapalnya untuk ekspor yang dominan asing. Jadi logistik cost-nya juga mahal. Itu mematahkan teori bahwa rupiah lemah bagus untuk ekspor," ujar Bhima.


Dia menyebut defisit perdagangan terutama disebabkan karena impor migasnya sepanjang Januari-April 2018 bengkak US$ 9 miliar lebih tinggi US$ 700 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, impor migas membengkak terkait dengan efek kenaikan harga minyak mentah. Tekanan impor juga berasal dari impor barang konsumsi yang tumbuh 25,8% dibanding bulan Maret. Hal ini sesuai dengan faktor seasonal jelang bulan Ramadan.

Bulan April kinerja ekspor non migas anjlok cukup dalam yakni -6,8% (mtm). Ekspor minyak sawit atau CPO anjlok -4,5% (mtm), besi baja -31,5%. Kinerja beberapa produk unggulan ekspor terutama CPO terhambat bea masuk dari India dan hambatan non tarif dari Eropa.

"Kondisi ini tentunya tidak sehat bagi perekonomian. Meningkatnya impor membuat permintaan dolar naik signifikan. Akibatnya rupiah diprediksi terus melanjutkan pelemahan hingga Juni," ujarnya.


Neraca perdagangan RI pada April 2018 mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar. Pada Januari, nilai dolar AS sebenarnya terus menurun hingga menyentuh level terendah tahun ini di Rp 13.289 yang tercatat pada 21 Januari 2018.

Namun sejak sebulan terakhir dolar terus menguat sampai akhirnya menyentuh Rp 14.000 pada 7 Mei 2018 lalu, dan sempat menyentuh posisi tertinggi di angka Rp 14.081. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads