Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan harusnya dengan pelemahan nilai rupiah ini bisa membuat ekspor lebih kompetitif.
"Seharusnya bisa menjadi momen yang bagus. Namun saat ini struktur ekspor Indonesia paling besar masih tergantung pada komoditas," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/5/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara teoritis harusnya akan meningkatkan ekspor, atau kita lihat lah beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan tingginya impor bahan baku dan barang modal termasuk mesin industri. Menurut dia, jika dolar AS menguat biaya produksi industri tentu akan bengkak.
"Belum lagi kapalnya untuk ekspor yang dominan asing. Jadi logistik cost-nya juga mahal. Itu mematahkan teori bahwa rupiah lemah bagus untuk ekspor," ujar Bhima.
Dia menyebut defisit perdagangan terutama disebabkan karena impor migasnya sepanjang Januari-April 2018 bengkak US$ 9 miliar lebih tinggi US$ 700 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, impor migas membengkak terkait dengan efek kenaikan harga minyak mentah. Tekanan impor juga berasal dari impor barang konsumsi yang tumbuh 25,8% dibanding bulan Maret. Hal ini sesuai dengan faktor seasonal jelang bulan Ramadan.
Bulan April kinerja ekspor non migas anjlok cukup dalam yakni -6,8% (mtm). Ekspor minyak sawit atau CPO anjlok -4,5% (mtm), besi baja -31,5%. Kinerja beberapa produk unggulan ekspor terutama CPO terhambat bea masuk dari India dan hambatan non tarif dari Eropa.
"Kondisi ini tentunya tidak sehat bagi perekonomian. Meningkatnya impor membuat permintaan dolar naik signifikan. Akibatnya rupiah diprediksi terus melanjutkan pelemahan hingga Juni," ujarnya.
Baca juga: Dolar AS Bisa Tembus Rp 15.000 Tahun Ini? |
Neraca perdagangan RI pada April 2018 mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar. Pada Januari, nilai dolar AS sebenarnya terus menurun hingga menyentuh level terendah tahun ini di Rp 13.289 yang tercatat pada 21 Januari 2018.
Namun sejak sebulan terakhir dolar terus menguat sampai akhirnya menyentuh Rp 14.000 pada 7 Mei 2018 lalu, dan sempat menyentuh posisi tertinggi di angka Rp 14.081. (ang/ang)











































