ADVERTISEMENT

Menguak Gurita Bisnis Samadikun hingga Korupsi BLBI Rp 169 M

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 18 Mei 2018 07:01 WIB
Menguak Gurita Bisnis Samadikun hingga Korupsi BLBI Rp 169 M
Foto: Ilustrasi fokus (bukan buat insert) Samadikun Kembalikan Rp 87 M (Andhika Akbaryansyah/detikcom)

Dikutip dari berbagai sumber, Samadikun sendiri sejatinya merupakan pengusaha yang merupakan salah satu founder atau pendiri Modern Group. Kerajaan bisnis tersebut pernah berjaya dan memiliki banyak perusahaan di berbagai sektor, mulai dari distributor Fujifilm, keuangan, properti hingga ritel kenamaan 7-Eleven yang telah gulung tikar.

Modern Group sendiri terbentuk berasal dari pendirian perusahaan yang bernama PT Modern Photo Film Company pada 12 Mei 1971. Perusahaan yang menjadi distributor utama seluruh produk Fujifilm di Indonesia itu didirikan oleh Otje Honoris yang merupakan ayah dari Samadikun.

Samadikun dengan 3 saudaranya Luntungan Honoris, Sungkono Honoris dan Siewie Honoris mulai meneruskan bisnis keluarganya pada 1982 setelah ayahnya meninggal dunia. Saat itu juga didirikan perusahaan bernama PT Inti Putra Modern sebagai induk usaha dan Samadikun yang menjadi pimpinannya.

Grup perusahaan pun berkembang, hingga akhirnya terhantam gelombang krisis ekonomi di 1997-98. Banyak perusahaannya terlilit utang, termasuk PT Bank Modern.

Sama seperti bank swasta kebanyakan, Bank Modern terbelit masalah ketatnya likuiditas. Saat itu terjadi rush money atau penarikan uang besar-besaran oleh nasabahnya.

Lantaran likuiditas yang ketat, Bank Indonesia (BI) memberikan bantuan likuiditas dalam bentuk SBPUK, Fasdis dan Dana Talangan Valas sebesar Rp 2.557.694.000.000. Samadikun yang kala itu menjabat sebagai Presiden Komisaris menyelewengkan dana itu sebesar Rp 80.742.270.528,81 dan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 169.472.986.461,52. Setelah diputuskan bersalah, Samadikun melarikan diri.

Sepeninggalan Samadikun, bisnis Modern Group pun semakin menurun. Bisnis distibutor Fujifilm tergerus perkembangan teknologi.

Sejak 18 Agustus 2015 perusahaan menjual dan mengalihkan hak dagang kepada perusahaan afiliasi Fuji Film Corporation yakni PT FujiFilm Indonesia (FFID).

Sejak saat itu, perseroan sepertinya lebih fokus mengembangkan bisnis Sevel, di mana perusahaan menandatangani Master Franchise Agreement dengan 7-Eleven, Inc sejak 3 Oktober 2008. Ada beberapa gerai Fuji Film yang berubah menjadi Sevel. Namun kini Modern Sevel juga telah menghentikan operasi seluruh gerai Sevel sejak 30 Juni 2017.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT