Pakai Teknologi Ini, Petani Cabai Tak Perlu Khawatir Saat Hujan

Pakai Teknologi Ini, Petani Cabai Tak Perlu Khawatir Saat Hujan

Rizki Ati Hulwa - detikFinance
Senin, 21 Mei 2018 21:40 WIB
Pakai Teknologi Ini, Petani Cabai Tak Perlu Khawatir Saat Hujan
Foto: Dok. Kementan
Sumedang - Musim hujan kadang menjadi kendala petani cabai melakukan penanaman di lapangan karena resiko kegagalan panen selalu menghantui pecinta budidaya cabai Indonesia. Namun, Kementerian Pertanian (Kementan) berikan solusi tersebut dengan teknologi rain shelter (sungkup plastik) yang sudah diterapkan di beberapa sentra penghasil cabai.

"Cabai salah satu komoditas strategis hortikultura yang digenjot pada era Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Selama ini produksi cabai musiman, sementara kebutuhan relatif sama sepanjang tahun. Teknologi sungkup merupakan salah satu solusi permanen cabai sehingga bisa ditanam sepanjang tahun, sehingga produksi dan pasokan stabil sepanjang waktu," ungkap Dirjen Hortikultura, Kementan Suwandi dalam keterangan tertulis, Senin (21/5/2018).

Saar Ramadan, Suwandi mengaku langsung turun ke lapangan untuk memastikan teknologi tersebut telah diterapkan oleh kelompok tani mukti di Desa Sukamaju Kecamatan Rancakalong, Sumedang. Dia menambahkan, bahwa teknologi ini sangat sederhana namun dampak yang dihasilkan sungguh luar biasa, diantaranya produksi terjamin dan kegagalan panen bisa diminimalkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Jadi, teknologi ini sederhana, sebagai rahasianya bisa tanam cabai sepanjang waktu. Teknologi ini kita dorong agar bisa direplikasi ke semua sentra produksi cabai dan sayuran di seluruh Indonesia," ungkap Suwandi.

Aseng, Ketua Kelompok Tani Mukti sekaligus kelompok petani cabai terbaik Kabupaten Sumedang menjelaskan bahwa banyak manfaat sungkup plastik yang dirasakannya selama ini.

Yang pertama, mengatasi kendala penyakit buah supaya tidak terkena patek. Lalu, mampu menekan biaya tenaga kerja saat perawatan tanaman di musim hujan, dan lebih ekonomisnya biaya sanitasi.

Selanjutnya, dapat mendukung penerapan budidaya ramah lingkungan dan dapat mengurangi frekuensi pengguna pestisida di lapangan. Serta memastikan keberhasilan panen saat musim hujan dengan tidak rontoknya buah, kelembapan terjaga, dan pupuk di lahan tidak mudah hilang akibat hujan.


Tak hanya itu, budidaya akan menjadi lebih ekonomis dan efisien yang dapat mengurangi biaya produksi serta mudah diterapkan. Terakhir, hasil produksi jauh lebih tinggi dari pada tanpa sungkup. Produksi relatif stabil antar musim dan saat musim hujan harga jualnya lebih bagus.

Aseng menambahkan bahwa biaya produksi dengan sungkup bambu, mulsa plastik total sebesar Rp 30 juta per hektar tidak jauh berbeda dengan tanam tanpa sungkup. Sedangkan dengan sungkup yang menggunakan bahan utama besi lingkaran, awet hingga 20 tahun, biayanya dapat mencapai Rp 90 juta per hektar.

"Ya untung bersih bisa lebih Rp 50 juta per musim. Alhamdulillah kemarin saya berangkat umrah plus dari rezeki cabai," pungkasnya. (idr/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads