Indonesia Ranking 5 Penerima Pinjaman Bank Dunia
Sabtu, 16 Jul 2005 13:01 WIB
Jakarta - Indonesia tercatat sebagai penerima bantuan Bank Dunia terbesar kelima untuk tahun fiskal 2005. Peringkat pertama penerima bantuan Bank Dunia terbesar diduduki India dengan bantuan sebesar US$ 2,89 miliar.Tempat kedua diduduki Turki (US$$ 1,8 miliar), disusul Brasil (US$ 1,77 miliar), diikuti Cina dan Indonesia yang memperoleh bantuan dalam jumlah yang sama, yakni masing-masing US$ 917 juta.Demikian pengumuman Bank Dunia seperti dikutip dari situs resminya, Sabtu (16/7/2005).India juga merupakan penerima bantuan terbesar dari International Development Association (IDA), dengan jumlah US$ 1,1 miliar. Bantuan IDA terbesar kedua diduduki Vietnam (US$ 700 juta) dan Bangladesh (US$ 600 juta).Sementara Turki tercatat sebagai penerima kredit dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) terbesar dengan jumlah US$ 1,8 miliar. Penerima kredit IBRD terbesar kedua diduduki Brasil (US$ 1,77 miliar), lalu disusul India (US$ 1,75 miliar).Secara total, pemberian pinjaman dari Bank Dunia kepada negara-negara berkembang meningkat US$ 2,2 miliar menjadi US$ 22,3 miliar selama pada tahun fiskal 2005, yang berakhir 30 Juni lalu.Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 13,6 miliar merupakan pinjaman dari IBRD kepada negara dengan perekonomian menengah, untuk 118 proyek. Kemudian sekitar US$ 8,7 miliar dalam bentuk pinjaman tanpa bunga, dan hibah untuk negara-negara miskin dari IDA, untuk 161 proyek.Sebagai perbandingan, pinjaman dari IBRD dan IDA secara total pada tahun fiskal 2004 mencapai US$ 20 miliar, yang terdiri dari IBRD (US$ 11 miliar) dan IDA (US$ 9 miliar).Secara volume, jumlah pinjaman baru memang meningkat, demikian juga kualitas pinjaman. Kualitas proyek-proyek yang dibantu juga meningkat setelah adanya perbaikan dalam persiapan, selektivitas, dan juga pengawasan yang lebih efektif. Jumlah proyek yang didanai dan tidak mencapai target menurun secara drastis menjadi hanya 13,5 persen, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 15,9 persen. Total pencairan dana juga meningkat menjadi US$ 18,7 miliar, dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya US$ 17 miliar.Dari total pinjaman, hibah dan jaminan tersebut, sebesar US$ 15,7 miliar digunakan untuk operasional investasi. Dan sisanya sebesar US$ 6,6 miliar digunakan untuk kebijakan pembangunan. Pinjaman untuk investasi saat ini telah mencapai 50 persen lebih besar dibandingkan tahun 2000.
(qom/)











































