RI-India Fokus Tingkatkan Kerja Sama Bisnis di 4 Sektor

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Rabu, 30 Mei 2018 11:41 WIB
Foto: Dok. Kadin
Jakarta - Ketua Umum KADIN Indonesia dan Ketua Confederation Industry of India (CII) melaporkan kepada Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Narendra Modi di Istana Negara hasil dari CEO Forum Indonesia-India yang dilakukan sehari sebelumnya. CEO Forum ini merupakan pertemuan yang kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada 2016 dan sebagai tindak lanjut dari kemitraan strategis kedua negara.

"Kami sepakat akan fokus di empat sektor untuk peningkatan kemitraan bisnis dari enam sektor sebelumnya. Fokus kerja sama bisnis yang disepakati pengusaha Indonesia dan India dalam pertemuan CEO Forum yakni manufaktur, pertambangan, farmasi, dan infrastruktur" kata Ketua Umum KADIN Rosan P. Roeslani dalam keterangan resmi seperti dikutip detikFinance, Rabu (30/5/2018).

Terkait dengan pertambangan misalnya, India merupakan tujuan ekspor utama untuk batu bara dan dengan kebutuhan industri domestik mereka yang terus meningkat, porsi ekspor batu bara kita masih bisa ditambah dan mereka juga tidak segan untuk melakukan investasi di Indonesia untuk sektor ini.

Sedangkan untuk farmasi, dengan tarif impor yang tinggi, salah satu jalannya adalah dengan melakukan investasi di sana.

"Namun tantangannya adalah menemukan mitra usaha yang tepat. Oleh karena itu, dialog ini sangat penting untuk menyamakan persepsi atas berbagai tantangan yang masih ada", tambahnya.


Indonesia merupakan eksportir batu bara terbesar ke-2 India setelah Australia dan pertumbuhannya per tahun cukup tinggi. Pada 2016, impor batubara dari Indonesia HS2701(batu bara, briket, ovoid dan bahan bakar padat yang dibuat dari batu bara), sebesar US$ 3,3 miliar naik menjadi US$ 4,7 miliar pada 2017 (International Trade Centre, 2018).

Sedangkan untuk farmasi, produk ini dikenakan tarif impor cukup tinggi sekitar 40% yang mengakibatkan obat-obatan kita tidak kompetitif untuk dijual di sana. Dengan demikian CEO Forum ini sebagai satu-satunya forum bisnis yang terinstitusionalisasi memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan hubungan ekonomi strategis kedua negara.

Selain menghasilkan rekomendasi berupa sektor- sektor kunci untuk kemitraan bisnis, organisasi bisnis kedua negara yaitu KADIN Indonesia dan Confederation of Indian Industry juga melakukan penandatanganan MOU kerja sama di sela CEO Forum guna mempererat hubungan keduanya.

"Kerja sama yang dilakukan oleh KADIN Indonesia dan CII ini sangat penting untuk peningkatan hubungan bisnis sekaligus melengkapi mekanisme yang sudah ada seperti CEO Forum dan komunikasi bilateral yang dilakukan oleh pemerintah kedua negara. Selain itu, dengan target total perdagangan dan investasi 50:50 sebesar US$ 50 miliar pada 2025, kita harus mampu memaksimalkan semua kerangka kerja sama yang ada," kata Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani.


Dalam MOU yang ditandatangani, disepakati bahwa kedua organisasi yang menaungi para pengusaha India dan Indonesia, akan berbagi informasi terkait isu ekonomi, perdagangan, sektor spesifik (Manufaktur, Infrastruktur, Pertambangan dan Farmasi) dan memberikan dukungan untuk berbagai kegiatan yang dapat mendukung kemudahan bisnis untuk pengusaha dari kedua negara.

Indonesia memiliki arti penting bagi ekonomi India karena merupakan mitra dagang terbesar mereka di ASEAN, tujuan ekspor kelapa sawit Indonesia, dan importir batu bara terbesar kedua bagi India. Untuk investasi, India juga sangat penting bagi Indonesia dengan mencatatkan kenaikan yang sangat signifikan pada 2017, lebih dari lima kali lipat dibanding tahun sebelumnya dari US$ 55 juta menjadi 286,6 juta.

Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia-India pada 2016 sebesar US$ 12,9 miliar dengan total ekspor US$ 10,2 miliar dan Impor US$ 2,1 miliar. Pada 2017 (YoY), neraca perdagangan Indonesia- India mengalami kenaikan sekitar 28,7%, dengan total ekspor US$ 14,08 miliar dan impor US$ 4,05 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia dan India per- Januari sampai dengan Maret, mengalami penurunan sekitar 3,06% yakni US$ 4,46 miliar pada 2017 menjadi US$ 4,33 miliar pada 2018. Kerja sama yang erat antara kalangan pengusaha kedua negara ini diharapkan dapat mendorong kemitraan strategis yang lebih kuat sehingga mampu mencapai target 50:50 pada 2025.

(eds/dna)