Follow detikFinance
Jumat, 01 Jun 2018 12:55 WIB

Kementan Akui Pernah Mau Disuap untuk Naikkan Harga Bawang Putih

Mustiana Lestari - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikuktura, Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyarto mengatakan salah satu stafnya melaporkan sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu dilaporkan kepada KPK sebagai bentuk suap dan gratifikasi untuk perizinan bawang putih sebesar Rp 2.000-3.000 per kilogram.

Dia mengatakan jika total impor yang dikeluarkan sebesar 500 ribu ton setiap tahunnya maka terdapat uang panas sebesar Rp 1 triliun yang diberikan kepada oknum yang tidak bertanggungjawab

"Adanya gratifikasi, suap dan sebagainya berujung pada justifikasi pelaku untuk menaikkan harga komoditas impor yang pada akhirnya akan membebani masyarakat karena harga tinggi, merugikan negara dan menyengsarakan rakyat utamanya petani," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/6/2018).


Dia menambahkan Kementan tidak henti-hentinya melakukan bersih-bersih dari korupsi. Bersih-bersih ini tidak hanya bagi kalangan intern pegawai Kementan, melainkan juga bagi pihak pihak yang terkait pertanian.

"Iya sikat habis tidak pandang bulu bagi semua pihak yang bermain main di sektor pertanian," katanya.

Ia menegaskan sejak dulu salah satu yang diawasi ketat adalah pelayanan perizinan. Proses pemberian rekomendasi impor komoditas strategis khususnya bawang putih terdapat kebijakan pemerintah terkait wajib tanam dan wajib menghasilkan 5 persen oleh pelaku usaha impor.

"Bau busuk permainan impor bawang putih telah diendus Pak Amran. Ada upaya beberapa pihak untuk memberikan sejumlah uang kepada staf lapang, agar terhindar dari kewajiban tanam ini," kata Prihasto.

Sementara itu, ekonom senior Rizal Ramli mengapresiasi kinerja Kementan dalam meningkatkan kedaulatan pangan di Indonesia, meski banyak tekanan dari pihak pemegang kuota impor.

"Pertemuan dengan Mentan, saya sangat apresiasi keberpihakan Pak Amran terhadap nasib petani seluruh Indonesia. Kebijakan yang diambil all out untuk meningkatkan kedaulatan pangan, walaupun terlalu banyak kepentingan, terutama oleh pemegang kuota impor yang dengan sengaja menciptakan kelangkaan buatan atau artificial scarcity," kata Rizal Ramli.


Dikatakan mantan Menteri Kemaritiman itu, ciri-ciri aktiviciel skalcity ini tak sejalan dengan kebutuhan bangsa saat ini yang tidak begitu membutuhkan impor. "Ciri-ciri aktiviciel skalcity sebetulnya kebutuhannya tak benar-benar butuh impor, tapi bulog dulu tak melakukan aktivitas pasar yang cukup agar naik ya justifikasi untuk impor," ujarnya.

Apabila hal ini terus dibiarkan, kata Rizal, maka Indonesia akan terus ketergantungan dengan impor. Bahkan, para petani Indonesia ke depan akan menurunkan hasil produksi mereka lantaran kebijakan impor dilakukan saat petani melakukan panen raya.

"Timing dari impor selalu diupayakan dalam waktu panen, sehingga terjadi apa yang disebut perpecual dependent, ketergantungan terus menerus. Kalau misalnya impor bawang dilakukan saat panen bawang, petani bawang tahun depan akan mengurangi produksinya, karena tidak menguntungkan," sebutnya.

"Makin lama makin terus, nanti impor ini kan makin banyak lagi tahun depan dan ini kejam sekali, karena merugikan petani. Tapi sekaligus membuat Indonesia kaya lehernya dijerat karena ketergantungan impor," sambunya.

Olehnya itu, ekonom senior ini berharapan besar pada Menteri Amran untuk membenahi semua kesalahan-kesalahan ini, supaya pertanian Indonesia makin maju. Pasalnya, alam Indonesia sangat baik, dimana matahari sepanjang tahun bersina, hujan banyak yang bisa menjadikan Indonesia sebagai gudang pangan di Asia.

"Nah saya menaruh harapan banyak kepada Mentan, karena beliau ingin membenahi semua supaya indonesia pertaniannya maju. Karena matahari sepanjang tahun, hujan banyak, kita harusnya bisa jadi gudang pangan untuk asia," harapnya.

"Karena permainan mafia, boro-boro gudang pangan, kita malah ketergantungan impor. Jadi saya mendukung langkah-langkah yang telah diambil dan muda-mudahan Pak Presiden Jokowi juga dapat mengapresiasi Mentan," tambahnya.

Rizal Ramli pun mengakui kehebatan Menteri Amran yang berhasil melakukan ekspor pada beberapa komuditi yang belum pernah dilakukan oleh Pemerintahan sebelumnya.

"Ya, didalam beberapa hal ada kemajuan, peningkatan produksi, ekspor beberap Komuditi yang belum pernah diimpor," tutup Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Bumi Putra Nusantara Indonesia.






(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed