Kepala Grup Riset Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Reza Anglingkusumo menjelaskan rendahnya angka inflasi masih mencerminkan kondisi perekonomian yang baik.
"Kalau dikatakan daya beli rendah, seharusnya harga-harga turun karena tidak ada yang beli. Tapi ini kan inflasi yang artinya masih ada kenaikan harga yang artinya masih ada supply and demand," kata Reza dalam Bincang Bareng Media di Gedung BI, Jakarta, Selasa (5/6/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau daya beli ini bukan isu ya, karena masyarakat masih ada belanja. Jadi pemerintah tidak melihat adanya isu daya beli karena sudah mulai membaik," kata dia.
Baca juga: Bos BI: Rupiah Kita Terlampau Murah |
Inflasi tertinggi terjadi di Tual 1,88% dan terendah di Purwokerto dan Tangerang masing-masing 0,01%. Kemudian deflasi tertinggi terjadi di Pangkalpinang sebesar 0,99% dan terendah terjadi di Pematangsiantar 0,01%.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,21%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,31%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,19%.
Untuk kelompok sandang sebesar 0,33%, kelompok kesehatan sebesar 0,21%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,9% dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,18%.
Baca juga: Inflasi Rendah, Tanda Daya Beli Loyo? |











































