Dari total pengajuan PMN tersebut terdiri untuk PT Hutama Karya (Persero) sebesar Rp 12,5 triliun dan PT PLN (Persero) sebesar Rp 15 triliun.
Deputi Bidang Energi, Logistik dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah menjelaskan dana tersebut dibutuhkan PLN untuk merealisasikan mega proyek pembangkit listrik 35 ribu MW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tenaga Kerja Asing di Poyek PLTGU Jawa 2 |
"Kebutuhan capex (capital expenditure) PLN itu setiap tahun Rp 122 triliun untuk membangun pembangkit dan transmisi. Harusnya kami minta tahun lalu," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (5/6/2018).
Untuk tahun ini PLN sendiri sudah mengajukan pinjaman sebesar US$ 1,5-2 miliar dari perbankan. Pinjaman tersebut guna memenuhi kebutuhan ekspansi elektrifikasinya.
Sementara untuk Hutama Karya diajukan PMN untuk memenuhi kebutuhan pembangunan tol Trans Sumatera.











































