Greenspan: Tingginya Harga Minyak Ganggu Pertumbuhan AS
Selasa, 19 Jul 2005 13:22 WIB
Jakarta -
Tingginya harga minyak dunia telah memukul pertumbuhan ekonomi seluruh negara dunia, tak terkecuali negara adidaya AS. Merambatnya harga minyak dunia sejak tahun 2003 hingga mendekati level US$ 60 per barel diyakini telah memangkas tingkat pertumbuhan ekonomi AS hingga 0,75 persen poin dari Product Domestic Bruto (PDB) AS tahun ini. Demikian jawaban tertulis Greenspan kepada Ketua Komite Kerjasama Ekonomi Kongres AS Jim Saxton yang dikeluarkan Senin (18/7/2005) waktu setempat seperti dilansir Reuters.Namun Greenspan menegaskan, perekonomian AS tetap terjaga dan tumbuh pada tingkat yang moderat. Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS tahun 2005 mencapai 3,75-4 persen.Greenspan menjelaskan, tingginya harga minyak telah menyebabkan belanja untuk energi juga melonjak. Hal tersebut memicu melemahnya pertumbuhan ekonomi AS hingga 0,5 persen poin pada tahun 2004. "Di samping semua 'gejolak' itu, perekonomian AS kelihatannya tetap bagus, meski harga minyak dunia terus meningkat," kata Greenspan.Harga surat utang langsung turun merespons surat Greenspan yang tertanggal 11 Juli tersebut. Menurut para pialang, surat itu menyiratkan kampanye Federal Reserve untuk kembali tingkat suku bunganya dalam jangka pendek secara terus menerus sebalum akhirnya berhenti."Pada intinya, pasar surat utang dapat terancam oleh preview sebelum pernyataan Greenspan Rabu (20/7/2005) ini, yang berimplikasi pada berlanjutnya kebijakan (Fed)," kata analis Action Economics dalam catatan risetnya.Benchmark imbal hasil (yield) surat berharga berjangka waktu 10 tahun melonjak hingga level dua bulan terakhir menjadi 4,225 persen. Yield yang tinggi menggambarkan penurunan harga surat utang.Pernyataan Greenspan ini juga langsung membangkitkan dolar AS yang tengah melemah posisinya terhadap sejumlah mata uang dunia lainnya. Pelaku pasar dan para analis ekonomi saat ini tengah menantikan pidato tengah tahun Greenspan pada Rabu dan Kamis pekan ini. Pidato ini akan memberikan sinyal arah pergerakan suku bunga Fed.Federal Reserve pada 1 Juli lalu memutuskan untuk menaikkan kembali suku bunga Fed 25 basis poin ke level 3,25 persen. Kenaikan itu merupakan rangkaian kenaikan hingga sembilan kali setelah suku bunga AS mencapai level terendahnya selama 45 tahun yakni sebesar 1 persen pada tahun lalu.Langkah Fed ini juga diikuti oleh Bank Indonesia yang selama dua bulan terakhir terus menaikkan suku bunganya. Tercatat pada lelang terakhir, suku bunga SBI jangka waktu satu bulan kembali meningkat 5 poin ke level 8,49 persen. Sementara BI rate triwulan II-2005 yang menjadi gambaran arah suku bunga selama 3 bulan berada di kisaran 8,5 persen.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































