Kredit di Sektor Tekstil Masih Berisiko Tinggi
Selasa, 19 Jul 2005 15:47 WIB
Jakarta - Perbankan nasional melihat pemberian kredit terhadap sektor industri tekstil dan perkayuan masih berisiko tinggi. Non performing loan (NPL) kredit di dua sektor ini masih tinggi."Bukan berarti BNI takut dalam memberikan kredit. Kami melihatnya secara case by case, yakni secara sektoral dan perusahaanya," kata Direktur Korporasi BNI Tjahjano Tjakrawinata usai bertemu dengan Menteri Perindustrian di Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (19/7/2005).BNI dalam pemberian kredit, lanjutnya, lebih menekankan pada pemberian kredit di sektor infrastruktur dan power plant.Direktur Korporasi Bank Mandiri Abdurachman menyataan hal yang sama. Bank Mandiri dalam memberikan kredit untuk korporasi tidak sebesar kredit komersil."Untuk memperbaiki portofolio Bank Mandiri secara keseluruhan, pemberian kredit harus lebih hati-hati dan selektif. Terutama yang berisiko tinggi seperti di sektor tekstil dan perkayuan," kata Abdurachman.Soalnya kondisi kedua sektor ini belum baik. Makanya Bank Mandiri melihatnya secara sektoral dan kinerja setiap perusahan yang meminta kredit. Bank Mandiri saat ini lebih menekankan pemberian kredit pada sektor telekomunikasi, makanan dan minuman, pertambangan dan perkebunan.Menteri Perindustrian Andung A Nitimihardja meminta sektor perbankan mendukung kebijakan industri."Saya imbau kepada perbankan untuk tidak overprudent alias terlalu hati-hati."Tujuannya agar tidak menghambat langkah pemerintah untuk menumbuhkan industri. Perbankan harus meningkatkan fungsi intermediasinya," kata Andung.
(mar/)











































