ASEAN Lepas Semua Saham di AAF

RI Belum Merespons

ASEAN Lepas Semua Saham di AAF

- detikFinance
Selasa, 19 Jul 2005 17:12 WIB
Jakarta - Negara-negara ASEAN yang menjadi pemegang saham PT ASEAN Aceh Fertilizer (AAF) memutuskan untuk melepas semua kepemilikannya di AAF kepada pemerintah Indonesia. Namun pemerintah Indonesia belum memberikan jawaban.Menteri Perindustrian Andung A Nitimihardja mengaku belum menerima laporan mengenai keputusan yang diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk memutuskan nasib AAF yang sudah sekarat sejak dua tahun tersebut."Saya belum terima laporannya. Tapi baiknya tanya ke Menneg BUMN karena ini adalah masalah corporate," kata Andung di Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (19/7/2005).Direktur Produksi AAF Alita Ilyas saat dihubungi detikcom menyatakan, hasil RUPS sepakat menjual semua saham asing kepada pemerintah Indonesia. Saham Indonesia di AAF sebesar 60 persen, sisanya dimiliki Malaysia (13 persen), Filipina (13 persen), Thailand (13 persen), dan Singapura (1 persen).Indonesia diwakili oleh PT Pupuk Sriwidjaja, Malaysia diwakili Petronas, Filipina diwakili National Fertilizer Corporation of Philippine, Thailand diwakili The Mistry of Finance of The Kingdom of Thailand, dan Singapura diwakili Temasek Holding Pte Ltd."Jika memang pemerintah tak mau membeli, maka AAF akan ditawarkan kepada pihak ketiga. Jika pihak ketiga tidak juga mau membelinya, maka diputuskan akan ditutup," kata Alita.Tidak dapat diselamatkannya pabrik pupuk ini, kata Direktur Kimia Hulu Departemen Perindustrian Agus Mundiyono, merupakan indikator kegagalan pemerintahan SBY. Sebab dalam program 100 harinya, SBY menyatakan AAF harus kembali beroperasi. Tapi nyatanya hingga sekarang belum beroperasi."AAF adalah masalah mendesak. Seharusnya SBY berpihak kepada industri yang sudah dibangun. Sikap kita di Departemen Perindustrian ingin agar tiga pabrik pupuk di Aceh, yakni AAF, PIM 1 dan PIM 2 tetap hidup," katanya.Kalau pemerintah mau menyelamatkan AAF, kata Agus, seharusnya sudah sejak tahun lalu dihidupkan. Saat ini tinggal keputusan pemerintah, apakah dilanjutkan atau tidak. Menurutnya, ketika AAF berhenti berproduksi, pemerintah harus terbebani dengan memberikan gaji karyawan AAF sebesar 45 persen.Dia juga kecewa kepada ExxonMobil yang mengeksplorasi gas di Aceh, namun tidak punya komitmen memasok gas itu ke dalam negeri. "Republik ini mau dibawa ke mana, Exxon kan hanya indekos," tukas Agus yang mengaku sudah memperjuangkan masalah pasokan gas untuk AAF ini ke Menko Perekonomian."Jika AAF dan PIM benar-benar tutup, maka akan ada efeknya ke sektor pertanian. Dan ini menghambat upaya ketahanan pangan nasional," tandas Agus. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads