Follow detikFinance
Kamis, 14 Jun 2018 18:30 WIB

Kementan: Inpago Jagonya Padi Gogo

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Dok. Kementan Foto: Dok. Kementan
Jakarta - Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian saat ini sudah menghasilkan inbrida padi gogo (INPAGO) varietas padi khusus untuk lahan kering yang dikenal sebagai padi ladang atau padi gogo.

Jenis padi ini diklaim benar-benar padi gogo unggulan karena memiliki potensi hasil tinggi (lebih 10 ton/hektar), umur genjah sekitar 110 hari, dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotic.

Sebut saja INPAGO 12 yang memiliki potensi hasil 10,2 t/ha, umur 111 hari, toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta tahan terhadap penyakit blas ras 033. Varietas ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan varietas lokal yang potensi hasilnya hanya 1-2 ton/hektar dan umurnya dalam, yaitu sekitar 6 bulan.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor Ismail Wahab, mengatakan bahwa selain Inpago 12, Badan Litbang Pertanian juga sudah merilis Inpago 9 dan Inpago Rindang 2 Agritan.


"Inpago 9 memiliki potensi hasil tinggi juga, yaitu 8,4 ton/hektar, umur 109 hari, agak toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, dan agak tahan terhadap penyakit blas ras 133," ujar Ismail dalam keterangan tertulis, Kamis (14/6/2018).

Lebih lanjut, Ismail mengatakan, Inpago Rindang 2 Agritan ini adalah padi gogo khusus untuk intercropping dengan tanaman perkebunan, seperti kelapa, karet, dan lain-lain.

"Inpago ini memiliki potensi hasil tinggi, yaitu 7,39 ton/hektar. Terkait ketahanan terhadap cekaman abiotic, Inpago ini selain toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al, juga toleran terhadap naungan sehingga sesuai untuk intercropping dengan tanaman perkebunan," ungkap Ismail.

Peneliti Balai Besar Litbang Padi, Sukamandi Aris Hairmansis mengatakan, Badan Litbang Pertanian sebenarnya sudah menghasilkan berbagai jenis Inpago dengan kelebihan masing-masing.

Semua Inpago umumnya toleran terhadap kekeringan dan kemasaman (keracunan Al) tapi masing-masing mempunyai ciri khas. Misalnya Inpago 8 dan Inpago 10 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pulen sehingga disukai suku Sunda, Jawa, Sulawesi, dan lain-lain kata Aris menambahkan.


"Inpago 9 dan Inpago 11 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pera sehingga sangat disukai masyarakat Minang (Sumbar dan Riau) dan suku Banjar (Kalsel dan Kaltim)" kata Aris.

"Sementara itu ada juga yang nasinya wangi (aromatik) dan rasanya pulen, yaitu Situpatenggang. Ada juga yang menghasilkan beras merah, yaitu Inpago 7. Beras ini mempunyai indeks glikemik (IGK) rendah sehingga cocok untuk penderita diabetes," ujar Aris menambahkan.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa potensi lahan kering untuk pengembangan padi gogo cukup besar. Dari luasan 80 juta hektar lahan kering, yang sesuai untuk padi gogo sekitar 24,7 juta hektar masing-masing lahan kering masam 21 juta hektar, dan lahan kering iklim kering 3,7 juta hektar.

"Apabila ekstensifikasi Inpago ke lahan kering sekitar 1 juta ha dengan produktivitas rata-rata 4 ton/hektar dan indeks pertanaman 150, maka tiap tahun ada tambahan produksi padi yang sangat signifikan, yaitu sekitar 6 juta
ton GKG," jelas Dedi. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed