Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2005 Diprediksi Capai 5,1-6%

Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2005 Diprediksi Capai 5,1-6%

- detikFinance
Kamis, 21 Jul 2005 11:14 WIB
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 5,1 hingga 6 persen, atau lebih baik dari realisasi tahun 2004 sebesar 5,13 persen. Namun pertumbuhan ekonomi tahun 2005 akan terganjal oleh sejumlah masalah baik dari eksternal maupun internal. Demikian hasil survei persepsi pasar selama triwulan II-2005 seperti dikutip dari situs Bank Indonesia, Kamis (21/7/2005). Survei ini merupakan survei triwulanan terhadap 94 responden yang terdiri dari para ekonom, pengamat atau peneliti ekonomi,analis pasar uang dan pasar modal, serta para akademisi. Survei dilakukan terhadap responden yang tersebar di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Bandung, Bandar Lampung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Kendari. Berdasarkan hasil survei tersebut, perkiraan inflasi meningkat menjadi 7,1 hingga 8 persen atau melampaui realisasi tahun 2004 sebesar 6,4 persen. Demikian pula nilai tukar rupiah diperkirakan melemah ke level Rp 9.001-9.500 per dolar AS, dibandingkan realisasi tahun 2004 di level Rp 8.940 per dolar AS. Terkait tingginya inflasi sebesar 7,1-8 persen terutama disebabkan oleh dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan serta ekspektasi meningkatnya harga umum akibat melemahnya nilai tukar rupiah.Angka defisit diperkirakan di kisaran 1,1 hingga 1,5 persen, sementara realisasi tahun 2004 sebesar 1,3 persen. Sedangkan tingkat pengangguran sekitar 9,1 hingga 10 persen, dibandingkan realisasi tahun 2004 sebanyak 9,8 persen. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata belum mampu menyerap tenaga kerja yang tersedia karena pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada kegiatan konsumsi.Pertumbuhan ekonomi tahun 2005 diperkirakan mengalami hambatan yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Beberapa faktor internal yang menghambat antara lain inkonsistensi kebijakan pemerintah, lemahnya penegakan dan kepastian hukum, korupsi, tingginya laju inflasi, meningkatnya volatilitas rupiah. Sedangkan faktor eksternal yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2005 adalah perekonomian dunia yang lesu dan juga tingginya tingkat suku bunga internasional. Namun survei itu tidak menyebut soal lonjakan harga minyak dunia yang kini tengah mengancam perekonomian seluruh dunia. Hasil survei juga menujukkan, tahun 2005 merupakan saat yang tepat untuk melakukan kegiatan investasi. Hal itu ditunjukkan oleh adanya kecenderungan peningkatan investasi swasta dan optimisme para investor di dalam dan luar negeri terhadap membaiknya potensi investasi jangka panjang di Indonesia. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads