China merespons cepat dengan mengumumkan rencana kebijakan pengenaan tarif dan bea cukai 25% untuk produk-produk AS. Ini bakal berlaku 6 Juli 2018 untuk produk pertanian, mobil, dan produk akuatik dari AS, senilai US$ 34 miliar atau setara Rp 476 triliun (kurs Rp 14.000/US$).
Dikutip detikFinance dari CNBC.com, Minggu (17/6/2018) daftar tersebut mencakup kacang kedelai, kendaraan listrik, berbagai kendaraan listrik hibrida, berbagai makanan laut hingga daging babi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengumuman itu disampaikan Jumat pagi waktu New York, atau Sabtu pagi waktu Beijing. Bagaimana untung-rugi perang dagang AS-China terhadap perekonomian Indonesia? Simak selengkapnya di sini:
Dampak Perang Dagang AS-China ke Ekonomi RI
|
Foto: BBC World
|
Chief Economist Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih memprediksi, Indonesia bisa menjadi negara penampung barang-barang kedua negara yang saling 'bertempur' itu.
"Kita harus hati-hati kalau kita bisa menjadi tumpahan pasar ex AS dan China, itu yang mengancam," kata Lana saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (18/6/2018).
Menurut Lana, produk AS yang bakal dikenakan tarif bea masuk tinggi oleh China tidak menutup kemungkinan masuk ke Indonesia. Sebab, dari beberapa barang tersebut masih dibutuhkan oleh Indonesia.
"Ini bisa menjadi pasar alternatif yang tadi AS ke China," tambah dia.
Dampak Perang Dagang AS-China ke Ekspor RI
|
Foto: agung pambudhy
|
Lana menjelaskan, dampak kepada ekspor Indonesia jika China mengurangi kegiatan usaha karena adanya penerapan tarif baru bea masuk terhadap beberapa produk yang berasal dari AS.
"Kita ini banyak ekspor komoditas, seperti batu bara, CPO yang banyak dibutuhkan, kalau kegiatan usaha di sana menurun bisa jadi ini sisi negatif, karena kalau China kurangi produksinya, implikasinya ekspor kita bisa turun," kata Lana saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (18/6/2018).
"Kalau kegiatan usahanya turun akan memberikan ancaman kepada ekspor kita, itu yang bisa menjadi sisi negatif buat kita," sambung dia.
Meski demikian, Lana bilang masih terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia dari memanasnya perang dagang antara AS dengan China.
Dari daftar produk tersebut, kata Lana, Indonesia bisa memanfaatnya menjadi peluang. Seperti halnya kendaraan listrik, di mana Indonesia bisa menjadi negara penampung dengan menjalin kesepakatan yang lebih lanjut.
"Mungkin bisa kita minta produksi hilirnya tadi dibangun di sini, kalau misalnya kita bisa negosiasi, jadi ini semacam kesempatan walaupun ini semacam ancaman, ancaman ini harus kita ubah menjadi kesempatan," tambah dia.
RI Bisa Jadi Pasar Alternatif
|
Foto: agung pambudhy
|
"Ada potensi pengalihan sebagian ekspor China yang tadinya ke AS menjadi ke negara-negara lain, dan Indonesia menjadi salah satu target pasar alternatif," kata Faisal saat dihubungi detikFinance Jakarta, Senin (18/6/2018).
Faisal menjelaskan, Indonesia menjadi pasar alternatif dikarenakan pasar domestik tanah air yang luas dan hambatan perdagangannya juga rendah, baik hambatan tarif maupun non tarif.
Tidak hanya itu, Faisal juga mengungkapkan dampak positif dari memanasnya hubungan dagang AS-China sangat terbatas. Pasalnya, tidak banyak produk industri manufaktur Indonesia yang bisa mengisi pangsa pasar ekspor diakibatkan perang dagang.
"Potensi penetrasi pasar ekspor Indonesia kedua negara tersebut juga relatif terbatas karena daya saing yang lemah dibanding negara-negara pesaing seperti Vietnam yang banyak menguasai pasar ekspor di AS maupun China," tutup dia.
Manfaatkan Ancaman Jadi Kesempatan
|
Foto: agung pambudhy
|
Salah satu yang bisa dimanfaatkan adalah dengan melakukan negosiasi ulang terhadap kedua negara tersebut.
"Nah itu yang mesti diantisipasi Indonesia, kita tahu kita akan kena, apa yang bisa kita minta, jadi kita juga bisa negosiasi," tutup dia.
Halaman 2 dari 5











































