Tarif Tol JORR Jadi Rp 15.000, Ini Untung-Ruginya

Tarif Tol JORR Jadi Rp 15.000, Ini Untung-Ruginya

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Rabu, 20 Jun 2018 15:05 WIB
Tarif Tol JORR Jadi Rp 15.000, Ini Untung-Ruginya
Foto: Dok. Kementerian PUPR
Jakarta - Kebijakan integrasi sistem pembayaran jalan tol yang tergabung dalam ruas Jakarta Outer Ring Road (JORR) (termasuk tol Akses Tanjung Priok) menuai sejumlah kontra. Kebijakan yang membuat tarif tol JORR menjadi satu sebesar Rp 15.000 itu dinilai merugikan pengguna karena harus membayar tarif tol jauh lebih mahal, sementara jarak yang mereka lewati tak sebanding dengan harga yang dipatok.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna menjelaskan, integrasi tarif JORR justru memberi keuntungan lebih banyak bagi pengguna jalan. Herry bilang, sebanyak 60% lebih dari pengguna tol JORR merupakan pengguna jarak jauh yang diuntungkan dari adanya integrasi JORR. Sedangkan sisanya sebesar 40% adalah pengguna jarak dekat yang akan mensubsidi tarif untuk pengguna jarak jauh yang membayar lebih murah.

"Jadi ada 60% lebih pengguna yang akan membayar lebih murah dari yang seharusnya," kata Herry kepada detikFinance saat dihubungi, Rabu (20/6/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan diberlakukannya integrasi sistem transaksi, maka tiga transaksi yang ada di JORR kini digabung menjadi satu. Tarif baru sebesar Rp 15.000 akan berlaku untuk empat ruas di tol JORR dengan panjang keseluruhan 76,43 km.

Pengintegrasian tarif JORR membuat pengguna yang tadinya membayar Rp 34.000 secara penuh, kini cuma perlu membayar Rp 15.000. Begitu pula untuk pengguna rute Bintaro-Priok (Rp 27.500), JORR-Priok (Rp 24.500), JORR W1-JORR (Rp 19.000) yang nantinya akan membayar lebih murah.

"Sehingga itu adalah bagian yang beruntung. Mereka disubsidi oleh pengguna yang jarak pendek tadi. Sehingga efisiensi dicapai bareng-bareng," katanya.



Herry menjelaskan, kebijakan ini dilakukan demi mengembalikan tujuan dibangunnya JORR sebagai jalan bebas hambatan. Transaksi di JORR yang dikelola oleh tiga badan usaha yang berbeda membuat pengguna tol jarak jauh harus berhenti di tiap gerbang tol sehingga kerap menjadi sumber kemacetan di ruas ini.

"Jadi dari yang tadinya ada tiga sistem, kita jadikan satu. Sehingga kalau dia tadinya pakai tiga-tiganya harus berhenti tiga kali, sekarang cukup sekali," kata Herry

Skema ini dirasa skema yang paling pas untuk mengembalikan fungsi jalan tol sebagai jalan nasional yang diperuntukkan bagi pengguna jarak jauh. Hal ini juga berkaca dari implementasi integrasi tarif yang dilakukan pada tol Jagorawi, yang berhasil menurunkan kepadatan sebesar 20%.

"Kalau Jagorawi memang ada penurunan pengguna. Ada sekitar 20% yang tidak lagi menggunakan jalan tol yang sudah diintegrasikan. Jadi kalau pengalaman yang tadi, itu sekitar 20%an. Tapi yang di JORR, nanti kita lihat," ungkapnya.

(eds/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads