Follow detikFinance
Rabu, 20 Jun 2018 17:18 WIB

Tarif Tol JORR Berubah, Angkutan Umum Terintegrasi Juga Harus Ada

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Dikhy Sasra Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Sistem transaksi tol lingkar luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) akan menerapkan sistem terbuka, di mana pengguna jalan akan membayar sekali saja lewat tarif sebesar Rp 15.000 saat masuk tanpa memperhitungkan berapa jarak yang sudah dilewatinya. Tarif sejumlah ruas tol yang terintegrasi dengan JORR pun akan naik, mulai dari yang biasa membayar Rp 3.000, Rp 7.500 hingga tarif JORR S sendiri sebesar Rp 9.500.

Kenaikan tarif tol tersebut pun diprediksi akan membuat lalu lintas pengguna tol jarak dekat berkurang. Hal ini tentunya akan menimbulkan penambahan arus lalu lintas di jalur arteri.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengatakan pemerintah harus sesegera mungkin menyediakan angkutan umum yang terintegrasi untuk meminimalisir dampak kemacetan dari berpindahnya lalu lintas tadi.

Menurutnya, jalan yang macet akan bisa berkurang jika masyarakat disediakan angkutan umum terintegrasi yang memudahkan pergerakan masyarakat, sehingga tak lagi menggunakan kendaraan pribadi.

"Pemerintah harus segera mengaktifkan angkutan umum sehingga orang tidak bawa mobil. Jadi integrasi JORR tidak bisa berdiri sendiri. Buat segera angkutan umum yang terintegrasi, yang tidak putus-putus, ada semua feeder-nya, tidak saling tumpang tindih. Tapi sampai sekarang belum dikerjakan sama pemerintah pusat dan daerah," katanya kepada detikFinance saat dihubungi, Rabu (20/6/2018).


Agus sendiri menilai penerapan integrasi JORR adalah langkah awal untuk mengurangi kemacetan di badan tol. Selama ini kata dia, pengguna tol jarak jauh merasakan bagaimana sulitnya berlalulintas di sepanjang tol JORR lantaran harus melalui gerbang-gerbang tol pemberhentian.

"Karena kalau yang pendek-pendek misalnya dari Fatmawati ke Pasar Minggu, itu harus antre karena bayarnya tidak bisa OBU dan pengendara tidak disiplin karena ambil dua tiga jalur di kirinya. Sehingga yang mau pakai jalur Tol JORR terus tersendat," ujar dia.

Jalan tol JORR sendiri semula diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan angkutan logistik yang tak diperbolehkan masuk ke dalam kota. Namun seiring dibangunnya JORR, sejumlah pembangunan properti di wilayah yang dilalui juga tumbuh, dan menyebabkan lalu lintas JORR dipenuhi oleh kendaraan pribadi.

Langkah integrasi pun dinilai menjadi cara yang paling efektif untuk mengurangi kepadatan di dalam tol. Meski hal ini juga harusnya diikuti oleh penyediaan angkutan umum terintegrasi yang baik agar ada alternatif yang memadai bagi masyarakat yang terkena imbas naiknya tarif JORR.

"Di sisi lain, investor terimanya harus tetap sama. Katakanlah per tahun terima 10 perak, sekarang dengan integrasi juga harus tetap sama," katanya.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed