Akibat Flu Burung, Penjualan Ayam Potong Bisa Turun 20%
Kamis, 21 Jul 2005 23:53 WIB
Jakarta -
Dampak dari kekhawatiran konsumen atas flu burung, diperkirakan akan berdampak signifikan menurunkan penjualan ayam potong hingga 20 persen. Akibatnya, sekitar 2,5 juta tenaga kerja terancam mata pencahariannya.Hal ini merupakan perkiraan dari Pusat Informasi Pasar Unggas (PINSAR), yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Departemen Perdagangan, Jl Ridwan Rais, Jakarta, Kamis (21/7/2005).Semenjak terungkapnya kasus flu burung, kepercayaan masyarakat untuk membeli dan mengkonsumsi ayam dan telur menurun. Sejak tanggal 17 Juli 2005 terjadi tekanan harga yang meningkat di hari berikutnya dan sampai 20 Juli 2005 semua daerah melaporkan ada tekanan harga akibat permintaan pasar menurun terhadap ayam pedaging dengan ukuran 1,4 kilogram atau kurang. Sedangkan untuk ayam pedaging di atas 1,4 kilogram masih tetap stabil.Melihat gejala tersebut, Mendag Mari Pangestu menghimbau masyarakat agar tidak terlalu takut atas wabah flu burung. Berdasarkan data, pada Agustus 2003 sampai Juli 2005, telah dimusnahkan tak kurang dari 9,5 juta populasi ayam atau 0,5 persen dari seluruh populasi ayam. Sementara itu Dirjen Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida mengatakan, selama ini Indonesia hanya mengimpor ayam kecil 185 gram atau kurang, yang berasal dari UK, Prancis, AS dan Belanda. Sampai saat ini organisasi kesehatan hewan dunia, belum keluarkan kembali pernyataan pelarangan impor. "Namun, kita inisiatif melakukan pengawasan dengan mengkarantina unggas yang diimpor di pelabuhan Indonesia," ujar Diah.Untuk eskpor, lanjutnya, belum ada pelarangan karena nilainya hanya kecil. Pada tahun 2004, nilai ekspor hanya US$ 2.800. Padahal sebelumnya pernah mencapai US$ 1 juta. Sedangkan impor nilainya pada 2004 mencapai US$ 8,5 juta, sedangkan tahun 2002 lalu pernah mencapai US$ 11 juta.Di tempat yang sama Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman mengatakan, Makassar adalah daerah yang harganya paling tertekan. Dari yang semula Rp 14.000 per ayam menjadi Rp 10.500. Sedangkan untuk telur relatif stabil Rp 9.000 per kilogram.Data di Depdag, harga rata-rata di delapan kota untuk ayam potong relatif stabil. Sedangkan produksi telur ayam ras berada dalam posisi terendah dalam tiga tahun ini yakni dari 3.500 ton per hari menjadi 2.700 ton per hari.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































