ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Jun 2018 07:19 WIB

Fakta di Balik Rencana Tarif Tol JORR Jadi Rp 15.000

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Halaman 1 dari 6
Foto: Dok. Kementerian PUPR Foto: Dok. Kementerian PUPR
Jakarta - Pemerintah kembali menunda rencana integrasi transaksi tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR). Baru seminggu sejak keputusan ini didengungkan, sudah dua kali rencana ini ditunda sementara Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tentang pelaksanaan integrasi ini harusnya sudah berlaku sejak tanggal 13 Juni 2018 lalu.

Dengan dalih sosialisasi yang membutuhkan waktu lebih panjang, pemerintah tampak bingung kapan harus menentukan rencana ini benar-benar diterapkan. Setelah menunda dilaksanakan tanggal 13 Juni 2018 dan memundurkannya ke tanggal 20, pemerintah kembali menunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Padahal rencana integrasi tol JORR dengan ruas Pondok Aren-Bintaro Viaduct-Ulujami dan tol akses Tanjung Priok sudah disiapkan setahun lebih. Perhitungan tarif integrasi pun sudah dilakukan dengan matang agar masing-masing badan usaha tetap mendapatkan keuntungan yang sama, di saat tarif keseluruhan untuk perjalanan jarak jauh akan jauh berkurang.

Pelaksanaan integrasi transaksi yang bertujuan mengurangi kemacetan di tengah-tengah perjalanan tol dengan menggunakan sistem transaksi terbuka justru menuai sejumlah kontra. Kenaikan tertinggi terjadi pada ruas Pondok Aren-Bintaro Viaduct-Ulujami yang tadinya hanya dikenakan tarif Rp 3.000, kini harus naik hingga Rp 15.000.

Lantas, apakah sebenarnya integrasi ini sudah sesuai dengan perhitungan penyesuaian tarif tol? Siapa untung dan siapa rugi dari pelaksanaan integrasi ini? Benarkah langkah ini efektif untuk mengurangi kemacetan di JORR? Berikut ulasan lengkapnya.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com