Follow detikFinance
Jumat, 22 Jun 2018 17:35 WIB

Akal-Akalan Importir Cari Untung dari Jual Bawang Merah Palsu

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Jefris Santama/detikcom Foto: Jefris Santama/detikcom
FOKUS BERITA Bawang Merah 'Palsu'
Jakarta - Harga bawang merah lokal kerap kali fluktuatif. Pada H-2 lebaran, bahkan ada daerah yang harga bawang merahnya tembus Rp 45.000/kg. Kondisi ini sering dimanfaatkan pedagang yang tak bertanggung jawab untuk mencari untung berlebihan.

Cara yang dilakukan tak sebatas menimbun barang. Bahkan ada oknum pedagang hingga importir yang nekat menjual bawang merah palsu dengan bawang bombay merah impor India yang bentuknya mirip bawang merah.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Oke Nurwan menjelaskan, ada oknum importir yang memiliki izin impor bawang Bombay malah mengirimkan bawang Bombay merah berukuran di bawah standar untuk dijual di dalam negeri.


Bukan tanpa tujuan, para importir tersebut, ingin mengambil untung dari tingginya harga bawang merah sekaligus memangkas biaya pengadaan barang lewat bea masuk yang lebih rendah.

Maklum saja, untuk mengimpor bawang bombay, pemerintah hanya menetapkan bea masuk sebesar 5%. Sementara untuk impor bawang merah, tarif bea masuknya mencapai 20%.

Para pedagang juga memanfaatkan celah aturan di mana RI masih membolehkan impor bawang bombay yang produksi dalam negerinya belum ada. Akal-akalan oknum importir bawang itu kata Oke, masuk kategori pelanggaran izin impor atau ilegal.

"Bawang bombay di sini kan produksinya nggak ada, minim sekali jadi kebutuhannya memang dipasok dari impor yang sekarang masalahnya itu adalah ada peraturan menteri perdagangan kalau bawang bombay itu aturanny yang boleh masuk ke kita itu yang ukurannya di atas 5 cm," kata dia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (22/6/2018).

Ia mengatakan, pelanggaran yang dilakukan oleh importir ini adalah tidak dilakukannya skema sortir ukuran. Karena bawang bombay di bawah 5 cm dilarang masuk ke Indonesia.

Oke menjelaskan, jika bawang bombay merah impor yang bentuknya sangat mirip dengan bawang merah lokal masuk ke RI, ditakutkan para petani di dalam negeri akan rugi. Karena, bawang bombay itu rentan dipalsukan sebagai bawang merah saat dijual di pasaran.

"Kalau yang di bawah 5 cm ada pengalihan menjadi dijual sebagai bawang merah, kalau yang dibawah 5 sentimeter itu dijual sebagai bawang merah itu akan mengganggu petani bawang merah kita. Bawang bombay merah yang tidak disortir jadi yang kecil kecil itu masuk, na bawang bombay kecil itu dijual sebagai bawang merah itu nggak boleh, ukurannya 2 cm. Jadi oleh mereka dijual sebagai bawang merah apalagi bawang merah sekarang harganya lagi tinggi," kata Oke.


Sementara itu di sisi lain, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan Yasid Taufik menjelaskan kerugian negara mencapai Rp 1,6 triliun akibat dari adanya bawang merah palsu yang masuk ke Indonesia. Kerugian tersebut berasal dari tarif bea masuk.

Sebab, tarif bea masuk bawang merah ditetapkan sebesar 20%. Sedangkan bawang bombay 5%.

"Impor bombay sampai Indonesia bisa Rp 2.000 per kilogram (kg). kalau dijual di pasaran itu Rp 6.000, kemudian dikerek menjadi bawang merah menjadi Rp 17.000 sampai Rp 20.000, kan minimal 10 ribu kali itu 160 juta kg, ya Rp 1,6 triliun kerugian negara tentunya kaitannya dengan bea masuk," ujar dia. (dna/dna)
FOKUS BERITA Bawang Merah 'Palsu'
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed