Revaluasi Yuan Bisa Membantu Turunkan Harga Minyak Dunia
Jumat, 22 Jul 2005 12:20 WIB
Jakarta -
Revaluasi yuan diyakini bisa membuat harga minyak dunia turun. Pasalnya, revaluasi yuan bisa mengurangi tingkat produksi Cina yang selama ini selalu 'haus' BBM yang memicu melonjaknya harga minyak dunia."Prediksi harga minyak akan jatuh dengan revaluasi ini mengingat Cina merupakan importir terbesar kedua di dunia setelah AS," kata Gubernur OPEC Indonesia Maizar Rahman kepada detikcom dan Investor Daily di Departemen ESDM, Jumat (22/7/2005).Maizar menjelaskan, revaluasi yuan akan membuat harga produk ekspor Cina lebih mahal dan dampaknya bisa membuat konsumen mengalihkan produknya ke produk dengan harga yang lebih kompetitif."Akibatnya dapat mengurangi ekspor Cina sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi di Cina yang lebih lambat sehingga Cina mengurangi impor minyaknya," papar Maizar.Namun ia mengingatkan, prediksi ini bisa berubah jika Cina dapat meningkatkan efisiensi penggunaan minyaknya. Cina pada Kamis (21/7/2005) waktu setempat secara resmi memutuskan untuk merevaluasi mata uangnya yang sudah berlaku hampir satu dekade lamanya di level 8,28 per dolar AS. Yuan akhirnya diperkuat 2,1 persen menjadi 8,11 per dolar AS. Sementara harga minyak dunia pada awal perdagangannya hari ini justru naik karena technical rebound setelah sempat turun cukup besar pada pekan ini. Selain itu para pialang juga mempertimbangkan dampak revaluasi yuan dan tragedi bom London. Para pialang justru saling bertentangan soal revaluasi yuan ini. Sejumlah analis mengatakan, revaluasi yuan justru dapat memicu pembelian secara suka-suka oleh para importir Cina, namun juga berdampak pada melemahnya ekonomi Cina. Harga minyak di New York untuk pengantaran September naik 34 sen (0,6 persen) menjadi US$ 57,47 per barel. Untuk minyak Brent juga naik 32 sen ke level US$ 56,04 per barel setelah sempat turun hingga 93 sen ke level US$ 55,72 per barel. Para pialang tengah sangat berhati-hati menunggu respons atas revaluasi yuan terhadap pembelian dolar dari para importir Cina. "Harga impor Cina akan lebih murah sebagai hasil dari revaluasi yuan. Hal itu akan mendorong impor minyak Cina," kata Naohiro Niimura, vice president Mizuho seperti dilansir Reuters.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































