Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 28 Jun 2018 16:36 WIB

Jerman Gagal di Piala Dunia, di Ekonomi Masih Posisi Atas

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Reuters
Jakarta - Jerman harus angkat kaki dari Piala Dunia 2018. Juara dunia empat tahun lalu harus menerima kekalahan Korea Selatan dengan skor 0-2 di Kazan Arena, Rabu (27/6/2018) malam WIB.

Dari segi ekonomi, Jerman merupakan negara dengan ekonomi yang cukup baik setelah melalui sejumlah hambatan pada kuartal pertama 2018.

Berdasarkan riset Goldman Sachs seperti dikutip detikFinance, Kamis (28/6/2018), pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman pada tahun ini diperkirakan sekitar 2,1%.

Sejak empat tahun terakhir, atau setelah gelaran Piala Dunia 2014, ekonomi Jerman menunjukkan tren yang positif. Di mana, pertumbuhan ekonomi jerman terus mengalami peningkatan secara konsisten hingga menurunkan tingkat penggangguran di angka 3,5%.

"Meskipun tingkat pengangguran rendah, namun inflasi masih bertahan di bawah target dari ECB (Bank Sentral Eropa) sebesar 2%, dengan pertumbuhan upah yang rendah," tulis riset tersebut.


Riset tersebut pun mengaitkan kondisi pertumbuhan ekonomi Jerman yang diiringi dengan nilai inflasi rendah disebabkan oleh dua faktor. Yakni karena reformasi struktural yang dilakukan pada awal tahun 2000-an dan tekanan terhadap globalisasi.

Reformasi Hartz IV meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi pasar tenaga kerja, sementara ada ancaman manufaktur yang bergeser dan persaingan dari para pekerja imigran menjadi penentu dalam pemberian upah di Jerman.

Kurangnya Teknologi Digital

Di sisi lain, saat ini Jerman juga tengah berupaya untuk meningkatkan infrastrukturnya pada sektor teknologi telekomunikasi untuk bisa mendorong sektor bisnis di Jerman.

Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi di Jerman, Zemmler Siebanlagen, selalu menjalankan bisnisnya secara manual hingga kuartal pertama 2018, contohnya dalam melakukan pemberkasan.

Namun, saat ini perusahaan tersebut telah menjalankan bisnisnya dengan menggunakan teknologi digital untuk mempermudah pekerjaan. Sang pendiri perusahaan, Heiko Zemmler, bahkan berharap agar pemanfaatan teknologi digital tersebut bisa dilakukan untuk pekerjaan di sektor lainnya.

Untuk mendukungnya, maka diperlukan konektivitas atau layanan internet yang juga mumpuni.

"Layanan internet telah datang ke banyak orang, tetapi sayangnya tidak untuk kami," kata Heiko Zemmler seperti dikutip dari Reuters.

Ekonomi Eropa yang kuat terus berinovasi dalam beberapa tahun terakhir untuk bisa beradaptasi dengan era digital.

Di sini, Heiko Zemmler mengatakan, bahwa pemerintah Jerman masih perlu memerikan dorongan lebih kuat dalam hal tekonologi digital tersebut.

Sebuah studi 2017 oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebut, bahwa Jerman menduduki peringkat ke-29 dari 34 negara industri dengan kondisi koneksi internet yang cepat.


Perdana Menteri Jerman Kanselir Angela Merkel sendiri telah berupata membuat perbaikan kekurangan digital Jerman untuk menjadi prioritas.

Dalam sebuah wawancara, Angela Merkel menjelaska tantangan yang dihadapi pemerintah dan menjelaskan mengapa perusahaan Jerman cukup lambat dalam mengadopsi teknologi digital untuk menyimpan dan berbagi data dan mengelola alur kerja.

Kurangnya internet berkecepatan tinggi adalah salah satu penghalang tersebut. Bahkan, ada juga yang mengatakan ekonomi Jerman yang kuat menghalangi upaya untuk melakukan memodernisasi. (fdl/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com