Tarif PLN Naik Saat Beban Puncak
GAPPMI Ancam Pakai BBM Lagi
Minggu, 24 Jul 2005 14:51 WIB
Jakarta - Industri makanan dan minuman mengancam akan kembali menggunakan BBM bila PLN memutuskan untuk menaikkan tarif di waktu beban puncak.Gabungan Asosiasi Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI) mendesak adanya audit energi perusahaan dahulu untuk menentukan industri mana saja yang melakukan pemborosan sehingga tidak disamaratakan."Menaikan tarif di waktu beban puncak hanya akan jadi bumerang bagi PLN karena setelah kenaikan harga BBM, industri beralih gunakan listrik. Tapi dengan adanya rencana tersebut kita jadi berpikir ulang," ujar Ketua GAPMMI, Thomas Darmawan pada detikcom, Minggu (24/7/2005).Industri, lanjut Thomas, tidak mungkin mengalihkan penggunaan energinya ke luar waktu beban puncak dengan alasan untuk mencapai target produksi.Selain itu dapat menambah angka pengangguran karena pada beberapa industri ada shift siang dan malam. Bila industri mengalihkan waktu kerja maka tidak ada shift malam, dikhawatirkan perusahaan melakukan pengurangan pegawai.Produk Indonesia pun akan kehilangan daya saing karena dalam jangka menengah dipastikan akan ada kenaikan harga produk dengan naiknya biaya produksi. Hal ini mengakibatkan produk menjadi tidak kompetitif dengan negara pesaing seperti Cina.Thomas menambahkan bahwa sebenarnya pemakai listrik terbesar adalah rumah tangga. Buktinya setelah pemerintah mencanangkan kebijakan hemat energi, kebijakan ini dapat menghemat penggunaan listrik hingga 700 MW."Jangan jadikan gerakan hemat energi sebagai kesempatan menaikan harga dengan membuat seolah-olah industri lah pemakai terbesar listrik saat beban puncak," tegasnya.Ia mencontohkan di Australia tidak ada perusahaan yang bekerja pada jam 17.00-22.00 waktu setempat. Perusahaan listrik Australia bahkan meminta agar para perusahaan mau menggunakan listrik di waktu tersebut. Sehingga dibuat discount time tapi di Indonesia malah sebaliknya.
(ddn/)











































