Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Jul 2018 17:57 WIB

Ada Perang Dagang, RI Bisa Ambil Celah Ekspor Kayu ke AS

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Rifkianto Nugroho Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus berlanjut. Kedua negara ini saling memberikan bea masuk tinggi pada barang barang yang akan masuk ke negara masing masing, baik produk China ke AS dan sebaliknya. Direktur Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Purwadi Suprihanto, menjelaskan dengan adanya perang dagang antara kedua negara sebenaranya Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil pasar industri kayu ke Amerika.

Industri kayu Indonesia punya potensi untuk bisa masuk ke Pasar Amerika, pasalnya supplier kayu dari Amerika sebelumnya adalah China. Namun karena China terbukti melakukan dumping, Amerika memberikan sanksi kepada China.

"Sebenarnya Industri kayu Indonesia bisa masuk, karena China kan terbukti melakukan dumping tinggal kitanya meningkatkan kualitas dan standar agar bisa masuk ke pasar Amerika," kata dia kepada detikFinance, Rabu (4/7/2018).


Sebagai informasi, perang dagang antara AS dan China semakin memanas, kali ini, giliran negara tirai bambu melakukan balasan terhadap kebijakan dagang AS. China merespons cepat dengan mengumumkan rencana kebijakan pengenaan tarif dan bea masuk 25% untuk produk-produk AS. Ini bakal berlaku 6 Juli untuk produk pertanian, mobil, dan produk akuatik dari AS, senilai US$ 34 miliar atau setara Rp 476 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Daftar tersebut mencakup kacang kedelai, kendaraan listrik, berbagai kendaraan listrik hibrida, berbagai makanan laut dan daging babi. Kementerian Perdagangan China mengumumkan keseluruhan proposal bea masuk produk AS akan mencakup 659 barang senilai US$ 50 miliar, termasuk minyak mentah, diesel, dan magnetic resonance imaging kit.

Pengumuman itu disampaikan Jumat pagi waktu New York, atau Sabtu pagi waktu Beijing. AS sebelumnya mengumumkan akan memberlakukan tarif tambahan 25% pada 818 impor asal China senilai US$ 34 miliar pada 6 Juli. Ditambah produk lainnya senilai US$ 16 miliar yang sedang dipertimbangkan. Jika disetujui, total produk China yang kena tarif masuk oleh AS totalnya US$ 50 miliar.

Kementerian Perdagangan Cina mengatakan pada Jumat sebelumnya bahwa Beijing akan segera memperkenalkan tarif pada skala yang sama. Pihaknya juga mengatakan hasil dari negosiasi perdagangan sebelumnya kini dibatalkan.


Pada bulan Mei, Beijing dan AS sepakat untuk peningkatan yang berarti dalam ekspor pertanian dan energi AS ke China. Namun, Gedung Putih kemudian mengatakan akan tetap mengejar tarif pada barang-barang China yang diusulkan pada bulan April. Ini menyebabkan hubungan perdagangan memburuk.

Lebih lanjut ia menjelaskan, poduk kayu Indonesia baru bisa masuk ke pasar Timur Tengah, karena jika dibandingkan pasar di Asia produk kayu Indonesia kalah dengan produk vaneer dari China.

Selain lebih murah barang-barang termasuk produksi kayu olahan dari China juga sudah sejak lama menggunakan hutan tanaman atau pohon yang sengaja ditanam berkala untuk industri, sementara di Indonesia untuk bahan vaneer baru menggunakan hutan tanaman di tahun 2005 sebelumnya Indonesia sepenuhnya menggunakan tanaman alam atau yang ditemukan di hutan.

Selain baru merambah pasar timur tengah Purwadi menjelaskan pasar Asia punya standar yang beragam dan lebih tinggi sehingga pasar vaneer untuk dari Indonesia belum bisa masuk ke pasar Asia.

"Standar di Asia itu tinggi, jadi Indonesia baru bisa menjual ke kawasan timur tengah," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com