Gara-gara Mengkritik Pemerintah Malaysia, CEO Proton Dipecat
Selasa, 26 Jul 2005 14:10 WIB
Jakarta - Perusahaan otomotif Malaysia, Proton, akan segera memberhentikan chief executive officer (CEO) Mahaleel Ariff. Pemberhentian itu mengakhiri spekulasi tentang masa depan Mahaleel terkait kritikan pedas yang dilontarkannya terhadap pemerintah Malaysia.Proton menyatakan bahwa setelah sembilan tahun berkarir, kontrak Mahaleel tidak akan diperpanjang dan dia akan segera diganti pada Selasa (26/7/2005) ini."Dengan keputusan ini, jelas sekali bahwa manajemen Proton berkomitmen dalam memecahkan masalah untuk melihat Proton bisa terus maju dan diatur dengan cara yang paling profesional, dan sikap yang efisien untuk kepentingan para stakeholder," demikian pernyataan Proton seperti dilansir AFP.Isu 'pemecatan' Mahaleel sudah mencuat sejak Mei lalu, saat ia mulai berjuang mengatasi anjloknya penjualan Proton akibat banjir mobil impor. Mahaleel menegaskan, Proton 'diperlakukan dengan buruk' oleh pemerintah Malaysia.Mahaleel juga menyatakan bahwa kebijakan menghilangkan tarif perlindungan di bawah perjanjian perdagangan bebas regional telah menghancurkan performa Proton. Padahal Proton yang dilahirkan pada tahun 1980-an diharapkan menjadi bagian penggerak industri nasional. Keluhan Mahaleel juga menyerempet soal skema izin yang penuh kontroversial soal impor mobil dalam operasinya selama satu dekade. Mahaleel mengkritik, kebijakan itu dimanfaatkan untuk melempar kendaraan ke pasar domestik dengan harga di bawah nilai sebenarnya. Atas kritikan Mahaleel, Menteri Perdagangan Malaysia Rafidah Aziz menyatakan, penyebab anjloknya pangsa pasar Proton dikarenakan kualitas Proton yang buruk. Untuk itu Rafidah meminta agar Proton bisa lebih kompetitif untuk menghadapi aturan baru di bidang otomotif. Akibat ketatnya kompetisi dengan perusahaan otomotif asing, pangsa pasar Proton terus merosot menjadi 44 persen pada tahun 2004, dibandingkan 48 persen di tahun 2003. Namun setelah pemecatan Mahaleel, saham Proton justru naik 0,65 ringgit (7,65 persen) menjadi 9,1 ringgit.
(qom/)











































