Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 10 Jul 2018 12:42 WIB

Cerita Sri Mulyani Anggarkan 20% APBN untuk Pendidikan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Noval Dhwinuari Antony-detikcom Foto: Noval Dhwinuari Antony-detikcom
Jakarta - Dana untuk pendidikan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini sebesar 20%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan jumlah anggaran tersebut bertujuan untuk mewujudkan visi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sri Mulyani mengungkapkan, banyak hal yang harus dibenahi untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik. Dibutuhkan kualitas yang baik untuk sumber daya yang akan mendidik anak-anak Indonesia.

"Saya dibesarkan oleh orang tua yang setiap hari membahas pendidikan. Makanya ini Menteri Keuangan kok ngomongnya pendidikan terus, ya karena pendidikan sudah ada di aliran darah saya," kata Sri Mulyani dalam sambutannya di Gedung Guru, Jakarta Pusat, Selasa (10/7/2018).


Saksikan juga video 'SMRC: Mahfud MD dan Sri Mulyani jadi Cawapres Potensial':

[Gambas:Video 20detik]



Dia menjelaskan pada 2009 Indonesia pertama kali berkomitmen untuk mewujudkan 20% anggaran pendidikan di APBN.

"Saya itu Menteri Keuangan pertama yang diperkarakan di Mahkamah Konstitusi karena berkomitmen 20% untuk pendidikan dan harus tercermin, terlihat dan terhitung di APBN," ujar dia.

Jumlah 20% di APBN memang dinilai sangat besar, namun hal tersebut dilakukan demi mewujudkan pendidikan yang baik di Indonesia. Namun, di sisi lain pemerintah juga harus memberikan dana-dana untuk belanja yang lain seperti transfer ke daerah, subsidi, hingga kesejahteraan.

Sri Mulyani menyampaikan pada 2009 anggaran pendidikan di APBN tercatat Rp 153 triliun, kemudian pada 2013 naik menjadi Rp 419 triliun dan tahun ini menjadi Rp 444 triliun.

"Setiap tahun anggaran ini naik, karena memang pendapatan dan belanjanya juga naik," ujarnya.


Sri Mulyani mengungkapkan, dengan mekanisme anggaran seperti itu diharapkan seluruh pihak bisa terus membantu kelancaran penggunaan anggaran, sehingga tidak ada keteledoran dalam penyerapan.

Selain itu, guru sebagai orang tua anak di sekolah diharapkan bisa terus mendidik dan memberikan visi dalam membentuk cita-cita. Jadi, guru diharapkan bisa berinovasi dan tidak hanya mengajarkan satu bidang saja.

"Misalnya guru matematika atau bahasa, ya mengajarkan sesuai buku saja. Jangan sampai tidak punya koneksi dengan murid, harus ada perhatian. Itu tantangannya, bagaimana agar murid bisa menerima pelajaran dengan baik," ujarnya.

Cerita Sri Mulyani Anggarkan 20% APBN untuk Pendidikan
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed