Follow detikFinance
Selasa, 10 Jul 2018 18:30 WIB

Mendes PDTT Pamer Bisnis Model Prukades ke Para Ekonom Asia

Tia Reisha - detikFinance
Foto: Dok. Kemendes PDTT Foto: Dok. Kemendes PDTT
Jakarta - Dalam upaya meningkatkan daya saing usaha berskala kawasan perdesaan, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, memperkenalkan program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades).

Bisnis model Prukades ini diperkenalkanya kepada para ekonom dari Thailand, Filipina, Taiwan, Malaysia dan Korea dalam Seminar International Conference Microeconomics of Competitiveness (MOC) bertema Comparative Cluster Initiatives in Asia, di IPMI International Business School Jakarta, Senin (9/7/2018).

"Bisnis model Prukades ini membuat ekonomi cluster, fokus maksimal pada tiga komoditas. Saya apresiasi seminar internasional ini untuk meng-create opportunity dan mengatasi masalah-masalah ini dengan para pakar ekonomi," ujarnya.

Eko pun menyampaikan bisnis model Prukades merupakan usaha untuk meningkatkan perekonomian di kawasan perdesaan. Hal ini juga terkait dengan kondisi Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus namun masih banyak masyarakat miskin karena tidak bisa mengakses pasar dan economic of skill.


Ia juga menuturkan sebanyak 82,77% penduduk desa bekerja di sektor pertanian dengan berbagai permasalahan. Di antaranya skala ekonomi yang kecil, akses pasar yang sangat terbatas, tidak terintegrasi vertikal, tidak tersedianya industri pasca panen, dan minim permodalan serta keterlibatan swasta.

"Rata-rata usaha kecil di perdesaan masih mengalami masalah distribusi sehingga menyebabkan harga beli di petani masih rendah. Solusinya yaitu klusterisasi produk unggulan desa, menciptakan integrasi vertikal dan pelibatan swasta untuk industri pasca panen," tambah Eko saat menjadi Honourable Speaker dalam acara seminar tersebut.

Ia pun berharap produktivitas ekonomi perdesaan bisa ditingkatkan, pengelolaan bisa menjadi lebih efisien, biaya produksi bisa ditekan, dan profit bisa maksimal untuk masyarakat desa.

Selanjutnya, ia menerangkan pengembangan konsep model bisnis Prukades mencakup beberapa hal. Pertama, customer segment yang meliputi perusahaan komoditas pertanian, e-Commerce, dan konsumen langsung. Kedua, value proposition yaitu bertemunya potensi antar desa dan pasar untuk menciptakan nilai tambah desa.

Ke tiga, lanjutnya, bisnis model ini mencakup channels yang merupakan jaringan bisnis. Jaringan bisnis tersebut meliputi program pempus dan pemda, serta jaringan LSM. Ke empat, customer relationship, yaitu konsultasi, WAG, website, penanganan masalah, dan pendampingan.


Ke lima, revenue stream yang terdiri dari peningkatan PAD, PDRB, pendapatan petani, Bumdesa Bersama, dan kemajuan desa. Ke enam, key resources, yaitu jaringan bisnis dan program, kekuasaan eksekusi pusat, daerah, serta usaha.

Ke tujuh, key activities, terdiri dari MoU, PKB, pembentukan Bumdesa Bersama, perbup lokasi, SK PIC, pelatihan, persiapan, produksi, dan pemasaran hasil. Ke delapan, key partners, yaitu PIC Kemendes PDTT, bupati, PIC perusahaan, Bumdesa Bersama, dan petani. Ke sembilan, cost structure, yaitu komunikasi, rapat koordinasi, kajian lapangan, penyusunan dokumen, dan pendampingan.

Selanjutnya, Eko menyampaikan pelaksanaan forum Prukades ini setidaknya melibatkan langsung para stakeholder yang terkait dengan desa. Di antaranya 19 kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perbankan, pemerintah desa, dan dunia usaha.

Ia juga menjelaskan beberapa contoh sukses dari pengembangan bisnis model Prukades di Kabupaten Pandeglang dengan komoditas jagung dan budidaya kerapu, di lahan transmigrasi Melolo, Sumba Timur dengan komoditas tebu, serta di Kabupaten Tulang Bawang dengan komoditas udang.

Selain itu, beberapa negara, menurut Eko, memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksinya. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada peluang bagi Indonesia untuk menjadi pengekspor komoditi pertanian ke negara lain. Eko juga berharap program Prukades ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat desa, khususnya petani. (idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed