Follow detikFinance
Selasa, 10 Jul 2018 20:36 WIB

Susi Kumpul Bareng Kaka Slank dan 200 Komunitas 'Penjaga' Laut

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menggelar Silaturahmi dan sarasehan gerakan Harmoni Laut bersama kurang lebih 200 perwakilan 'penjaga' laut. Di dalamnya ada komunitas pencinta laut yang tergabung dalam Pandu Laut Nusantara di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat.

Ia menjelaskan, seluruh anggota Pandu Laut Nusantara ini diharapkan secara kolaboratif mengupayakan perlindungan laut RI, demi kemaslahatan umat manusia di masa kini dan masa yang akan datang.

"Mengamankan laut Indonesia dari perusak dan pencuri ikan tidak hanya berhenti pada penenggelaman kapal ikan ilegal. KKP berkomitmen untuk melanjutkan bersama komunitas-komunitas pecinta laut Nusantara berkerja bersama untuk memanfaatkan kekayaan dan keindahan laut Indonesia terutama dalam sektor pariwisata bahari," kata dia di Kegiatan Silaturahmi dan Sarasehan Harmoni Laut untuk Kelestarian dan Keberlanjutan di Kantor KKP, Selasa (10/7/2018).


Dari pantauan detikFinance ada beberapa komunitas yang hadir. Beberapa diantaranya adalah perwakilan dari asosiasi penyelam, pengelola usaha wisata bahari, pengelola kapal wisata bahari, kelompok pecinta lingkungan, mahasiswa pecinta lingkungan.

Tampak hadir pula musisi Akhadi Wira Satriaji atau yang biasa dikenal Kaka Slank. Kehadiran Kaka Slank dalam kesempatan ini adalah karena dia salah satu inisiator komunitas Pandu Laut Nusantara.

Kegiatan ini dilakukan Menteri Susi untuk mengajak komunitas pecinta laut nusantara dan masyarakat Indonesia secara umum untuk bersama ikut melestarikan laut Indonesia dan bersama secara bijaksana memanfaatkan potensi laut.

Susi Semeja dengan Kaka SlankSusi Semeja dengan Kaka Slank Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Susi menjelaskan, pariwisata merupakan salah satu sektor utama penopang pembangunan ekonomi Indonesia dan wisata bahari memberikan kontribusi signifikan dalam membangun sektor ini.

"Kapal pencuri ikan bukanlah satu-satunya ancaman bagi sumber daya laut Indonesia. Sampah plastik telah menjadi salah satu ancaman utama laut Indonesia dan dunia. Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk memastikan sampah plastik tidak berakhir di laut karena tidak hanya mengotori laut, sampah plastik juga mengancam kesehatan manusia," kata dia.

Selain kekhawatirannya pada kelangsungan mahluk laut, ia juga mengkhawatirkan limbah yang akan mengganggu ekosistem laut.

"Sampah plastik akan dikonsumsi ikan, dan akan membahayakan ikan itu sendiri dan manusia yang mengkonsumsinya," kata dia.


Sementara itu di tingkat internasional, Indonesia melalui KKP memperlihatkan kepemimpinan dalam pengelolaan lautan dengan menjadi negara pertama yang membuka informasi secara transparan data kapal-kapal perikanan yang beroperasi di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), termasuk pergerakan kapal yang terekam Sistem Pemantauan Kapal (Vessel Monitoring System/VMS).

Susi Semeja dengan Kaka SlankSusi Semeja dengan Kaka Slank Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Selain itu, saat ini Indonesia dipercaya menjadi Co-Chair International Canal Reef Initiative (ICRI) bersama dengan Monako dan Australia.

Pada Oktober 2018, Indonesia akan menjadi tuan rumah "Our Ocean Confrence". Dalam pertemuan ini akan dibahas kondisi kawasan perairan internasional dan langkah-langkah mengatasi masalah-masalah laut khususnya terkait sampah plastik. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed