Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 11 Jul 2018 11:45 WIB

Sri Mulyani Beberkan Pentingnya Pajak di Depan Milenial

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hari ini dijadwalkan mengisi sambutan pada acara seminar di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Dalam sambutannya Sri Mulyani menceritakan tentang hari lahir pajak. Dia menjelaskan, pajak di Indonesia memiliki konsep perjuangan.

"Disampaikan oleh pak Robert, lahirnya kata pajak adalah suatu perjuangan dan 14 Juli dipilih sebagai hari pajak. Saya gembira Ditjen Pajak menyusuri, meneliti dan mempelajari sejarah," kata Sri Mulyani di Gedung DJP, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Dia menyampaikan, saat ini banyak kalangan masyarakat yang mempertanyakan kewajiban dalam pembayaran pajak. Menurut Sri Mulyani dalam konteks bernegara setiap warga negara harus menjalankan kewajiban termasuk membayar pajak.

Dia juga menyoroti generasi milenial yang saat ini dinilai hanya menuntut hak-hak dalam hidup.

"Generasi milenial barang kali mereka hanya menuntut hak, mereka bilang saya berhak mendapatkan dari negara seperti keamanan, air bersih, kesehatan hingga pelayanan," imbuh dia.



Menurut dia, untuk menjalankan suatu negara, dibutuhkan sumber pendanaan yang besar. Karena itulah pendiri bangsa sebelum kemerdekaan 17 Agustus 1945 menentukan pajak guna menjalankan negara.

"Mereka mendesain pajak sebelum republik ini lahir. Setelah merdeka digunakan untuk menjaga kedaulatan dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan, karena itu pajak diperlukan. Pajak itu ingridients (komposisi) yang tidak terpisahkan," ujarnya.

Dia menyampaikan, kedaulatan negara bisa berjalan dengan baik jika fungsi perpajakannya juga berjalan dengan baik. Sri Mulyani menyebut, pajak adalah tulang punggung negara yang menopang tubuh negara.

Menurut dia, jika sebuah negara mau bergerak dengan cepat dan bermartabat hingga dibanggakan rakyat dan disegani negara lain, maka harus memiliki tulang punggung yang kuat.

"Kalau penopangnya tidak kuat, misalnya rapuh atau osteoporosis, salah bentuk maka itu akan menghambat," ujar dia.

Dia mengatakan untuk mendukung perpajakan juga harus diimbangi dengan etos kerja yang militan, loyalitas tinggi dan semangat yang besar dari pegawai pajak. Hal itu dilakukan agar tulang punggung negara ini bisa lebih kokoh.

Acara ini dihadiri oleh 700 peserta seperti mahasiswa dari Perguruan Tinggi di Jakarta dan Sekitarnya, dosen, wakil asosiasi usaha dan wakil Kementerian dan Lembaga.

Direktur Jenderal Pajak Robert Pakhpahan menjelaskan acara ini digelar dalam rangka memperingati hari pajak yang ditetapkan setiap 14 Juli. Pada 14 Juli 1945 satu bulan sebelum proklamasi pajak pertama kali masuk dalam rancangan Undang-undang dasar (UUD) rancangan kedua BAB 7 halaman keuangan pasal 23 yang isinya segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan UU 1945.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed