Follow detikFinance
Kamis, 12 Jul 2018 16:54 WIB

Ini Hasil Rapat Arief Yahya dan Luhut soal Pariwisata

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: (dok Kemenpar) Foto: (dok Kemenpar)
Jakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengusulkan untuk bisa menambah anggaran untuk promosi pariwisata di 2019. Tambahan anggaran ini sebagai salah satu cara untuk bisa meningkatkan devisa negara di sektor pariwisata untuk tahun 2019.

Arief mengatakan, ada tiga upaya yang akan dilakukam untuk bisa meningkatkan devisa di sektor pariwisata. Salah satunya ialah tambahan anggaran untuk promosi. Hal ini diungkapkan Arief usai mengikuti rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

"Jadi salah satunya yang kita diskusikan tadi, adanya LCCT (Low Cost Carrier Terminal), kedua tentang anggaran, anggaran promosinya harus kita tingkatkan, karena diakui oleh Gubernur BI, oleh semua, bahwa sektor pariwisata itu yang paling mudah dan murah untuk mendapatkan devisa," di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Arief sendiri belum menjelaskan anggaran untuk promosi yang bakal ditambah nantinya. Dia mengaku semua masih dalam hitungan.


"Kalau standarnya, standar lama yang kita gunakan, per pax atau per orang itu US$ 20 dolar. Sekarang kita kira-kira baru US$ 10, jadi masih kurang US$ 10. Jadi kalau US$ 10 dikali proyeksi kita, kalau proyeksinya US$ 20 juta ya dikalikan, kita perlu US$ 200 juta," katanya.

Selain itu, kata Arief, upaya lain untuk bisa meningkatkan devisa di sektor pariwisata ialah dengan melakukan perluasan pada bandara-bandara strategis. Mulai dari Bandara Ngurah Rai di Bali, hingga Labuan Bajo.

"Jadi perluasan bandara-bandara. Satu Bandara Bali sekaligus untuk anual meeting, itu akan kita tambah aprone. Kedua bandara Yogyakarta yang baru, ketiga Mataram. Keempat Labuan Bajo," jelasnya.

Arief mengatakan bahwa langkah-langkah itu yang akan dilakukannya untuk bisa meningkatkan sektor pariwisata di 2019. Meskipun, Arief sendiri belum bisa menjelaskan berapa target devisa yang ingin diraih pada tahun depan.

Sementara untuk tahun ini sendiri diketahui, sektor pariwisata akan jadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia di 2018, yakni sebesar US$ 20 miliar atau naik sekitar 20% dari tahun 2017 yang sekitar US$ 16,8 miliar.

"Tahun 2019. Tapi begitu prinsip disetujui, kita langsung tenderkan dari sekarang, sehingga Januari sudah jalan," katanya. (fdl/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed