Follow detikFinance
Kamis, 12 Jul 2018 20:15 WIB

Mendes: Dana Desa Bisa Hindarkan Petani dari Pendapatan Haram

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Dok Kemendes Foto: Dok Kemendes
Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengatakan manfaat dari dana desa bisa menghindarkan masyarakat dari pendapatan haram. Dia mengatakan hal itu karena manfaat dana desa mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui Produk Unggulan Desa (Prukades).

"Dana desa ini kita gunakan untuk pembangunan desa-desa. Sekarang ini daerah-daerah rawan bencana rawan kebakaran berkurang jauh. Kita gunakan dana desa untuk mendongkrak produk unggulan daerah yaitu di sektor-sektor pertanian supaya masyarakat pendapatannya naik dan tidak mencari pendapatan dari hal-hal yang haram," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (12/7/2018).



Eko yang menghadiri puncak acara Hari Anti-Narkotika Internasional (HANI) 2018 di Balai Besar Rehabilitasi BNN, Lido Bogor, juga mendorong setiap daerah menentukan Prukadesnya dengan mengalihkan masyarakat untuk menanam produk pertanian yang lain.

Dirinya mencontohkan kasus di Aceh yang masih terdapat ladang ganja. Dengan adanya dana desa, masyarakat Aceh bisa mengalihkan dari menanam ganja ke tanaman lain seperti jagung atau padi.

"Yang baru kita lakukan untuk penanggulangan narkoba saat ini di Aceh saja. Ladang-ladang ganja kan yang kita ketahui baru di Aceh saja. Penguatannya dengan Prukades dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Di Aceh pertumbuhan BUMDes-nya paling cepat karena BUMDes-nya juga mengelola hasil pasca panen pertanian," katanya.

Eko memaparkan, hingga akhir tahun 2017 jumlah BUMDes di Aceh mencapai 7.082 dari jumlah BUMDes seluruh Indonesia sekitar 32.249 BUMDes. Itu menjadikan Aceh sebagai daerah yan memiliki BUMDes terbanyak.



Sementara itu, Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko mengatakan pihaknya mencanangkan Desa Bersih Narkoba di Desa Budeng, Jembrana, Bali. Dengan adanya Desa Bersih Narkoba diharapkan agar Desa Budeng mampu memiliki daya tangkal yang kuat terhadap godaan narkoba.

"Tujuannya adalah untuk mengajak dan memberdayakan masyarakat di desa untuk lebih berperan aktif dalam perang melawan narkoba dan mampu mempersempit ruang gerak sindikat narkoba," ujarnya.

Kepala Desa Budeng mengatakan bahwa di desanya belum pernah ada kasus pengedaran atau kecanduan narkoba. Kerja sama dengan berbagai pihak pun terus dilakukan.

"Kami bekerja sama dengan Babinkamtibmas, pemuda, remaja dan semua elemen masyarakat dilibatkan untuk ikut mensosialisasikan bahaya narkoba. Harapannya dengan bersih dari narkoba generasi muda mendapatkan kesempatan untuk sukses. Bagaimana bekerja sama dengan dunia usaha dan berharap tiap desa bisa seperti desa kami yang bebas dari narkoba," terangnya.

Sementara itu petani Aceh, Lamtoba, mengatakan yang dulunya menanam tanaman ganja, kini dengan adanya Grand Design Alternative Development (GDAD) menggantikan tanaman ganja jadi komoditi unggulan daerah beralih ke kopi, jagung, cabai, bawang, dengan sistem tumpangsari.

"Rencana ke depan akan melaksanakan program pertanian terpadu. Kami terus kembangkan ternak dan budidaya ikan. Pengembangannya pun dengan menggunakan dana desa melalui BUMDes," ujarnya.

Puncak peringatan HANI 2018 tersebut juga dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Ketua KPK Agus Rahardjo, Kepala Ombudsman, serta beberapa mantan Kapolri, serta Wakapolri. (mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed