Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 16 Jul 2018 00:12 WIB

Strategi Kementan dalam Mensejahterakan Petani

Mega Putra Ratya - detikFinance
Foto: Dok Kementan Foto: Dok Kementan
Jakarta - Pemerintahan Presiden RI Joko Widodo memberikan perhatian khusus kepada kesejahteraan petani. Pemerintah menyadari betul bahwa petani yang sering dicap sebagai kelompok marjinal, sebetulnya adalah kunci Indonesia jika ingin mencapai kedaulatan pangan.

"Kementerian Pertanian berkomitmen segala kebijakan dan program pertanian diarahkan kepada peningkatan kesejahteraan petani. Seperti yang selalu diarahkan oleh Menteri Pertanian, nyawa dari setiap penyusunan kebijakan dan program di sektor pertanian adalah kesejahteraan petani," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kuntoro Boga Andri dalam keterangannya, Minggu (15/7/2018).

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Kementan terus mengupayakan berbagai strategi. Salah satu terobosan yang dilakukan Kementan adalah refocusing anggaran. Besarnya perhatian Presiden Jokowi terhadap sektor pertanian dibuktikan dengan peningkatan anggaran pertanian secara signifikan. Pagu APBN Kementan pada tahun ini sebesar Rp 22,6 triliun, jauh meningkat dibandingkan anggaran 2014 sebesar Rp 14,2 triliun.

"Mungkin publik banyak yang tidak mengetahui bahwa sejak 2015, pemerintah telah secara serius melakukan refocusing anggaran pertanian dengan tujuan meningkatkan bantuan untuk petani. Pada tahun 2014, mayoritas anggaran sebesar 48 persen digunakan untuk belanja operasional seperti perjalanan dinas, rapat, dan rehab gedung. Sementara anggaran untuk sapras (sarana dan prasarana.red) pertanian saat itu hanya sekitar 35 persen. Tapi sejak 2015, komposisi komponen anggaran kami balikkan. Belanja operasional kami turunkan menjadi hanya 28%, sementara belanja sarpras ditingkatkan signifikan menjadi 65% dari total anggaran Kementan 2015," papar pria yang akrab disapa Pak Boga tersebut.


Pada tahun 2018, Pak Boga menyebutkan porsi belanja sarpras mencatat rekor baru. Untuk pertama kalinya belanja sarpras capai 85 persen dari total anggaran Kementan, atau setara Rp 19,3 triliun. Sementara sisa anggarannya sebesar 3,3 triliun digunakan untuk komponen-komponen anggaran lainnya yang meliputi belanja pegawai, belanja operasional, dan belanja modal.

Peningkatan porsi anggaran sarpras memungkinkan pemerintah untuk memberikan perhatian sebesar-besarnya kepada petani. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengarahkan jajarannya untuk fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan petani.

Perhatian besar kepada petani tersebut diejawantahkan melalui sejumlah program terobosan, dari mulai pembangunan infrastruktur hingga program pendampingan petani. Di bidang infrastruktur, dalam kurun waktu dua tahun, Kementan telah membangun dan merehabilitasi tiga juta hektare jaringan irigasi. Selain infrastruktur, Kementan turut meningkatkan bantuan untuk petani berupa benih dan pupuk, serta alat dan mesin pertanian (alsintan).

"Anggaran sarpras di antaranya digunakan untuk memberikan bantuan berupa alsintan modern kepada petani. Kami meyakini bahwa kemajuan sektor pertanian Indonesia akan sulit dicapai jika petani masih menggunakan peralatan tradisional. Untuk itu, kami terus mengupayakan petani untuk menggunakan alat pertanian modern," ujar Boga.

Upaya modernisasi pertanian tidak hanya terhenti pada pemberian bantuan. Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melakukan pendampingan intensif terhadap petani dalam pengoperasian alat pertanian modern tersebut. Lewat program Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPA), para penyuluh di daerah dikerahkan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada petani dalam memanfaatkan maupun merawat alat pertanian modern, seperti combine harvester, traktor roda empat, ataupun ekstravator.


Persoalan degenerasi petani juga turut menjadi perhatian pemerintah. Kuntoro Boga menyebutkan Kementan menyadari bahwa ada stigma di masyarakat, terutama generasi muda bahwa sektor pertanian kurang menarik untuk dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. Untuk mengubah pola pikir masyarakat tersebut, Kementan melakukan sejumlah program strategis di bidang pengembangan SDM.

Salah satu strategi yang dijalankan Kementan adalah mentransformasi sejumlah Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). Bila sebelumnya STPP lebih difokuskan untuk mencetak tenaga-tenaga penyuluh, maka Polbangtan justru diharapkan dapat melahirkan para petani muda.

Tidak hanya bebas biaya, lulusan yang terpilih akan mendapatkan bantuan modal untuk menjalankan usaha tani. "Di Polbangtan juga akan lebih banyak praktik pertanian modern sehingga para mahasiswa Polbangtan diharapkan kelak bisa menjadi petani modern yang handal," tutur Boga.

Program lain yang digencarkan Kementan untuk menghadang degenerasi petani adalah program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP). PWMP adalah upaya penumbuhan dan peningkatan miat, keterampilan, dan jiwa kewirausahaan generasi muda di bidang pertanian yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan dan kemadirian jiwa kewirausahaan generasi muda di bidang pertanian.

"Target peserta PWMP adalah generasi muda. Dalam program ini akan diberikan bimbingan, pendampingan, dan pemagangan dari hulu ke hilir kepada para peserta. Tidak berhenti di situ, para peserta akan diberikan modal usaha sehingga program aksi ini bisa menghasilkan wirausahawan di bidang agribisnis yang memiliki kompetensi dan potensi besar untuk memajukan sektor pertanian sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar," tegas Boga.


Kementan diyakini akan terus mengupayakan kebijakan dan program yang berpihak kepada petani. Sektor pertanian ke depannya masih akan terus menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang tidak kecil. Tapi kami mensyukuri, selama hampir empat tahun kepemimpinan Presiden Jokowi, kebijakan dan program pemerintah sudah mulai membuahkan hasil positif.

"Melansir data BPS (Badan Pusat Statistik), rata-rata nilai tukar petani (NTP) pada tahun 2017 lalu tercatat 103,06. Nilai ini signifikan meningkat dibandingkan tahun 2014 yang rata-rata tercatat sebesar 102,03," ungkapnya

Lebih lanjut Kepala Biro Humas dan Informasi Publik ini menyebutkan bahwa peningkatan kesejahteraan petani tersebut linier dengan capaian produksi pangan. Nilai produksi pertanian tahun 2017 sebesar Rp 1.344 triliun atau naik Rp 350 triliun dibandingkan tahun 2013. Tercatat untuk periode 2013 - 2017, terdapat kenaikan 9% per tahunnya.

"Peningkatan produksi ini juga berdampak pada peningkatan kinerja ekspor. Tercatat pada tahun 2017, ekspor pertanian meningkat Rp 441 triliun," tuturnya. (ega/zul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed