Follow detikFinance
Senin, 16 Jul 2018 15:25 WIB

PT PAL Gerilya Bidik Pasar Malaysia, Filipina dan Thailand

Zaenal Effendi - detikFinance
Foto: Imam Wahyudinanta/detikcom Foto: Imam Wahyudinanta/detikcom
Jakarta - Tahun ini, PT PAL berusaha mendapatkan kontrak beberapa pembuatan kapal perang dari Malaysia, Thailand dan Filipina dengan spesifikasi masing masing.

"Malaysia butuh 2 unit LPD disebut RMSS 163 meter lebih panjang kita (produksi) 123-124 meter yang memiliki kemampuan diantaranya pendaratan pasukan dan melakukan helikopter serta tank. Dan ini paling besar di ASEAN, alhamdulillah dalam beberapa putaran ranking 1," kata Dirut PT PAL (Persero) Budiman Saleh pada wartawan usai mendampingi tinjauan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di PT PAL, Senin (16/7/2018).

Budiman berharap proyek kapal terbesar tetap menjadi proyek prioritas pemerintahan Mahathir Mohammad. "Kita berharap pemerintahan baru, Pak Mahathir masih menganggap project ini project prioritas. Karena ada pergeseran dari Pak Najib ini prioritas dan sekarang ada yang diubah, ada yang dibatalkan. Kita berharap RMSS prioritas nomor 1," harap Budiman.


Sayang Budiman enggan menyebut nilai kapal yang rencananya dipesan Malaysia. "Kalau nilainya jangan, tapi yang pasti 2 dari 3 unit. Itu saja," ujarnya sambil tersenyum.

PT PAL juga sedang berusaha mendapatkan kontrak kerja pembuatan kapal perang Pemerintah Thailand dan bersaing dengan negara Singapura.

"Thailand butuh 143 meter, saingan kita Singapura. Thailand sedikit berbeda dia harus mampu untuk penurunan pasukan, bisa suplai bahan bakar dari air serta kapal selam serta charging baterai dan submarine rescue," ungkapnya.

Untuk Thailand, pihaknya berharap dalam waktu dekat ada kunjungan langsung ke PT PAL agar bisa melihat langsung kapal jenis LPD. "Kita sangat berharap September-Oktober ada sinyal dari mereka agar mereka berkunjung dan melihat LPD kita karena seeing is belive, karena kompetitor kita selalu cerita PT PAL selalu cerita PT PAL belum punya kemampuan yang multiplatform seperti itu. Padahal, secara eginering kapabiltiti menggunakan software bisa kita lakukan," ujar Budiman.

Sedangkan di Filipina berencana akan membeli 2 unit kapal jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) dengan spesifikasi sama dengan kapal yang sebelumnya dibuat oleh PT PAL. "Tapi mereka menanyakan ke Korea dan Belanda. Tentu kami melakukan perubahan baik geometrik, desain dan kemampuan spesifikasinya. Teknologi kan berubah dan makin maju," tambah dia.

Ia pun optimis Filipina akan melakukan pemesanan kapal jenis SSW ke PT PAL. Budiman sudah bertemu dengan Menteri Pertahanan Filipina yang bangga dengan dua kapal SSV sebelumnya buatan PT PAL.

Untuk investasi, Budiman menegaskan anggaran dana talangan sudah ada dan siap digunakan kapan saja dengan nilai Rp 5,7 Triliun. "Investasi kita sudah ada, modal kerja kita punya dukungan ekspor-impor, Jasindo dan Askrindo Rp 5,7 triliun yang siap dipakai kapanpun," pungkas Budiman. (zul/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed