Hasilnya, hampir semua postur belanja dan penerimaan realisasinya lebih baik dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang melaporkan hal tersebut juga menyebutkan mengenai proyeksi realisasi APBN 2018 selama semester II.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonomi RI Tumbuh 5,1% di Semester I-2018
|
Foto: Ari Saputra
|
Kinerja APBN sampai semester I-2018, kata Sri Mulyani juga menunjukan peningkatan dan arah yang tepat, baik dari sisi pencapaian ekonomi makro maupun besaran-besaran postur APBN.
Hal itu terlihat dari realisasi penerimaan perpajakan yang tumbuh 14,3% atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar 9,6% atau pada 2016 yang -2,4%. Begitu juga realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang tumbuh 64,2% atau lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu. Lalu, penyerapan belanja kementerian/lembaga tumbuj 34,9%, TKDD sudah 50,3%.
Dari realisasi penerimaan dan belanja, maka defisit semester I-2018 sebesar 0,75% dari PDB. Angka ini lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar 1,29%, dan tahun 2016 sebesar 1,82%.
"Untuk keseimbangan primer sampai semester I surplus Rp 10 triliun, tahun lalu sudah defisit Rp 68,2 triliun, 2016 bahkan negatif Rp 143,4 triliun," kata dia.
Realisasi Asumsi Makro Semester I-2018
|
Foto: Ari Saputra
|
- Pertumbuhan Ekonomi APBN 5,4%, realisasi semester I-2018 5,1% (perkiraan)
- Inflasi APBN 3,5%, realisasi semester I-2018 3,1%
- Nilai Tukar APBN, Rp 13.400, realisasi semester I-2018 rata-rata Rp 13.746 per US$
- SPN 3 bulan APBn 5,2%, realisasi semester I-2018 4,3%
- Harga minyak dunia APBN US$ 48 per barel, realisasi semester I-2018 rata-rata US$ 67 per barel
- Lifting minyak APBN 800 ribu barel per hari (bph), realisasi semester I-2018 758 ribu bph
- Lifting gas APBN 1,20 juta barel setara minyak, realisasi semester I-2018 1,14 juta barel setara minyak
Ekonomi RI Diramal Tumbuh 5,3% pada Semester II
|
Foto: Lamhot Aritonang
|
"Dengan demikian seluruh tahun akan menjadi 5,2%," kata Sri Mulyani di ruang rapat Badan Anggaran DPR, Jakarta, Selasa (17/7/2018).
Berikut proyeksi pemerintah atas kinerja APBN selama semester II-2018:
- Pertumbuhan Ekonomi APBN 5,4%, proyeksi semester II-2018 5,3% maka satu tahun penuh sebesar 5,2%
- Inflasi APBN 3,5%, realisasi proyeksi II-2018 3,5% maka satu tahun penuh sebesar 3,5%
- Nilai Tukar APBN, Rp 13.400, proyeksi semester II-2018 rata-rata Rp 14.200 per US$ maka sampai akhir tahun Rp 13.973 per US$
- SPN 3 bulan APBn 5,2%, proyeksi semester II-2018 5,6% maka satu tahun penuh 5,0%
- Harga minyak dunia APBN US$ 48 per barel, proyeksi semester II-2018 rata-rata US$ 73 per barel maka satu tahun penuh US$ 70 per barel
- Lifting minyak APBN 800 ribu barel per hari (bph), proyeksi semester II-2018 792 ribu bph maka satu tahun penuh 775 ribu bps
- Lifting gas APBN 1,20 juta barel setara minyak, proyeksi semester II-2018 1,08 juta barel setara minyak maka satu tahun penuh 1,11 juta barel setara minyak.
Masih Gali Lubang Tutup Lubang
|
Foto: Rachman Haryanto
|
Keseimbangan primer adalah selisih antara penerimaan dikurangi belanja yang tidak termasuk pembayaran utang. Keseimbangan primer biasanya anggaran yang berasal dari utang untuk membayar bunga utang.
"Hingga akhir tahun, outlook keseimbangan primer masih negatif namun lebih rendah dari APBN," kata Sri Mulyani di ruang rapat Banggar DPR, Jakarta, Selasa (17/7/2018).
Dalam prognosis APBN 2018, keseimbangan primer ditetapkan Rp 87,3 triliun, realisasi sampai semester I sebesar Rp 10 triliun. Sedangkan proyeksi semester II bakal negatif Rp 74,9 triliun. Sehingga, sampai akhir tahun negatif Rp 64,8 triliun.
Dengan begitu, pemerintah akan kembali berutang demi membayar utang alias menggali lubang untuk menutup lubang. Meskipun proyeksinya lebih rendah dari APBN.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga memproyeksikan defisit anggaran sampai akhir 2018 sebesar 2,12% atau lebih rendah dibanding APBN yang sebesar 2,19%.
Subsidi Energi Akan Bengkak
|
Foto: Ruly Kurniawan
|
Khusus untuk belanja subsidi energi 2018 di APBN ditetapkan Rp 94,52 triliun, terdiri dari subsidi BBM dan elpiji tabung 3 kg sebesar Rp 46,86 triliun, dan subsidi listrik Rp 47,66 triliun.
Realisasi semester I-2018 sebesar Rp 59,51 triliun atau sudah 63,0% dari pagu anggaran. Untuk subsidi BBM dan elpiji 3 kg realisasinya Rp 35,41 triliun atau 75%, sedangkan subsidi listrik Rp 24,09 triliun atau 50,6%.
Adapun proyeksi di semester II 2018 untuk subsidi BBM dan elpiji 3 kg adalah sebesar Rp 68,08 triliun, dan subsidi listrik sebesar Rp 35,89 triliun. Dengan demikian, total subsidi energi di semester II bakal naik menjadi Rp 103,98 triliun atau 110% terhadap APBN.
Sehingga selama 2018, subsidi energi jumlahnya membengkak menjadi Rp 163,49 triliun atau 173,0% dari APBN. Rinciannya untuk subsidi BBM dan elpiji menjadi Rp 103,48 triliun atau 220,8% dari APBN, sedangkan subsidi listrik menjadi Rp 59,99 triliun atau 125,9%.
Subsidi Energi Akan Bengkak
|
Foto: Ruly Kurniawan
|
Khusus untuk belanja subsidi energi 2018 di APBN ditetapkan Rp 94,52 triliun, terdiri dari subsidi BBM dan elpiji tabung 3 kg sebesar Rp 46,86 triliun, dan subsidi listrik Rp 47,66 triliun.
Realisasi semester I-2018 sebesar Rp 59,51 triliun atau sudah 63,0% dari pagu anggaran. Untuk subsidi BBM dan elpiji 3 kg realisasinya Rp 35,41 triliun atau 75%, sedangkan subsidi listrik Rp 24,09 triliun atau 50,6%.
Adapun proyeksi di semester II 2018 untuk subsidi BBM dan elpiji 3 kg adalah sebesar Rp 68,08 triliun, dan subsidi listrik sebesar Rp 35,89 triliun. Dengan demikian, total subsidi energi di semester II bakal naik menjadi Rp 103,98 triliun atau 110% terhadap APBN.
Sehingga selama 2018, subsidi energi jumlahnya membengkak menjadi Rp 163,49 triliun atau 173,0% dari APBN. Rinciannya untuk subsidi BBM dan elpiji menjadi Rp 103,48 triliun atau 220,8% dari APBN, sedangkan subsidi listrik menjadi Rp 59,99 triliun atau 125,9%.
Halaman 2 dari 7











































