Industri Mebel Rotan Solo Merasa Dirugikan SK Mendag
Jumat, 29 Jul 2005 13:04 WIB
solo - Para produsen mebel rotan di sentra industri Solo, Jawa Tengah, seperti Trangsan, Gatak, Sukoharjo meminta Menteri Perdagangan mempertimbangkan kembali pencabutan SK yang melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi. Pencabutan SK itu dinilai berpotensi mematikan produsen dalam negeri karena akan kesulitan mencari bahan baku.Ikhwanto, pemilik CV Rotan Indah di Trangsan yang bergerak di bidang produksi dan ekspor mebel rotan mengatakan, keputusan pemerintah tersebut sangat tidak berpihak kepada sektor industri kecil. Dia memrediksi akan terjadi gejolak besar dari produsen dan ribuan karyawannya jika SK itu tidak dicabut.Dia meminta Pemerintah kembali kepada aturan lama yang melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi. Sebab jika rotan Indonesia dijual bebas dalam bentuk mentah dan setengah jadi di pasar dunia maka besar kemungkinan pengrajin mebel dalam negeri tidak akan mendapat bagian."Tidak semua negara memiliki bahan baku rotan. Jika dibebaskan dengan nilai penjualan yang sama antara pembeli lokal dan pembeli asing maka pengrajin kecil dalam negeri yang tidak memiliki lahan dan petani sendiri di daerah produsen rotan terancam akan gulung tikar karena tidak mendapat bagian," ujarnya kepada detikcom, Jumat (29/7/2005).Sejauh ini, lanjut Ikhwan, memang dampak kelangkaan bahan baku belum begitu dirasakan oleh para pengrajin. Namun dia memprediksi bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kelangkaan bahan baku itu akan terjadi karena permainan sejumlah orang dengan pembeli asing untuk membawa sebagian besar bahan baku mentah milik petani ke luar negeri.Dua Faktor KebangkrutanAncaman berhenti produksi di daerah sentra industri tersebut, kata Ikhwan, bukan suatu yang mustahil. Kenaikan harga bahan baku beberapa waktu lalu hingga saat ini masih sangat dirasakan pengrajin. Jika ditambah lagi dengan kelangkaan bahan baku maka Ikhwan memprediksikan kematian usaha tinggal menunggu waktu. "Di sentra industri ini sekarang banyak perusahaan sudah tidak beroperasi. Beberapa waktu ini saya juga sudah berhenti produksi mebel dan hanya mengolah bahan mentah menjadi setengah jadi untuk didistribusikan kepada pengrajin produsen. Saya masih bisa bertahan mendapatkan bahan baku karena memiliki petani di Sulawesi dan Sumatera," paparnya.Keluhan serupa juga diutarakan Anang Suryanto, pemilik CV 'Wahyu Rotan' di Trangsan. Menurutnya kenaikan harga seiring kenaikan BBM yang lalu masih cukup memukul pengrajin dalam hal perimbangan biaya produksi dengan penjualannya. "Kami khawatir terjadinya dampak sosial yang cukup tinggi karena ada ribuan jiwa yang menggantungkan nasib di sini," ujarnya.Seorang produsen lainnya, Hirlan Rusdiyanto, juga mengeluhkannya. "Sejak beberapa saat lalu usaha kami ini sebetulnya hanya tinggal mampu bertahan saja. Jika Pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak memihak usaha kecil seperti itu maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan dampak jauh lebih buruk dari yang diduga," kata dia kepada detikcom.Seperti diketahui Menteri Pedagangan Marie Elka Pangestu telah mengeluarkan SK No 255/MPP/Kep/6/2005 yang membuka pemasaran atau ekspor rotan mentah dansetengah jadi. SK ini membatalkan SK Menperindag No 55/MPP/Kep/5/2004 masa pemerintahan Megawati yang melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi.
(qom/)











































