Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 21 Jul 2018 14:10 WIB

Mendes Akui Dana Desa Turunkan Angka Stunting dan Demam Berdarah

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Kemendes PDTT Foto: Kemendes PDTT
Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan melalui dana desa, Eko mengatakan dalam tiga tahun terakhir telah berhasil membangun lebih dari 123 ribu kilometer jalan desa, 791.258 meter jembatan desa, ribuan unit pasar desa, serta puluhan ribu unit drainase.

Selain membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, pembangunan ragam infrastruktur desa tersebut juga membantu meningkatkan aktivitas ekonomi desa.

"Kita lihat drainase di desa-desa sekarang sudah cukup baik. Tadinya saya mau setop karena tadinya saya pikir ini cuma akal-akalan desa supaya harga tanahnya naik. Tapi dilarang sama Bu Menkes (Menteri Kesehatan). Karena dengan adanya saluran-saluran air yang baik itu, di Indonesia yang setiap tahun yang biasanya di musim hujan ada wabah demam berdarah, dalam tiga tahun ini kita tidak melihat ada wabah demam berdarah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/7/2018).



Selain itu, lanjut dia, angka stunting di Indonesia juga menurun cukup signifikan dari 37% menjadi 27%. Ia berharap dalam enam tahun ke depan angka stunting benar-benar bisa teratasi.

"Angka (stunting) 27% memang masih tinggi. Tapi kalau kita konsisten terus mengalami penurunan, dalam enam tahun ke depan diharapkan sudah tidak ada lagi angka stunting," pungkasnya.

Dia melaporkan dalam satu tahun terakhir Indonesia berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga 1,8 juta jiwa di mana 1,2 juta penurunan itu berada di desa. Berbanding jauh dengan penurunan angka kemiskinan di kota yang berjumlah 560 ribu jiwa.

"Kita juga lihat gini ratio di desa jauh lebih kecil dari kota. Gini ratio di desa 0,324, sementara di kota masih 4, dan gini ratio nasional 0,39," tambah dia.



Oleh karena itu, kini pihaknya tengah mengejar empat program unggulan desa untuk mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan. Menurutnya, pengentasan kemiskinan dan menurunkan kesenjangan adalah dua hal yang tak bisa ditawar.

"Karena itu (kemiskinan dan kesenjangan) adalah yang menentukan maju atau tidaknya Indonesia," imbuh dia.

Dalam kesempatan lainnya, saat bertemu dengan k Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII), Eko mendorong IKA PMII untuk memunculkan produk unggulan di desa. Ia meminta agar satu desa bisa memiliki satu produk yang ditonjolkan.

"Saya juga minta IKA PMII membantu. IKA PMII yang menjadi kepala daerah agar mengajukan produk unggulannya untuk dikembangkan dalam program Prukades. Atau IKA PMII ajak kepala daerahnya untuk mengajukan produk unggulannya, nanti kita bantu. Prukades itu penting, kenapa penting? Karena desa yang sukses rata-rata fokus pada satu produk tertentu," ujarnya yang menghadiri acara Musyawarah Nasional ke-6 IKA PMII di Hotel Aston Marina.

Di saat bersamaan, Eko memaparkan soal empat program unggulan desa seperti Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), Embung Desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan Sarana Olahraga Desa. (mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com